Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Mengapa Pencoblosan Pemilu di Indonesia Masih Gunakan Paku?

Cahyo Yulianto , Jurnalis-Jum'at, 02 Februari 2024 |14:40 WIB
Mengapa Pencoblosan Pemilu di Indonesia Masih Gunakan Paku?
Ilustrasi (Okezone)
A
A
A

MENGAPA pencoblosan pemilu di Indonesia masih menggunakan paku? Pertanyaan ini lumrah ditanyakan masyarakat menjelang Pemilu 2024. Hal ini karena pencoblosan menggunakan paku sudah sangat ketinggalan zaman.

Sebagian besar negara di dunia saat ini telah beralih ke sistem pencoblosan dengan menggunakan pulpen dengan cara dicentang. Di beberapa negara bahkan sudah menerapkan e-voting.

E-voting ini merupakan sistem pemilihan suara yang menggunakan perangkat elektronik sebagai pirantinya. Negara-negara seperti Estonia, India hingga Filipina telah menerapkan ini. Bahkan negara-negara yang lebih maju telah menerapkan internet voting sehingga warganya tidak perlu berkumpul di TPS untuk menggunakan hak suaranya.

 BACA JUGA:

Pertanyaannya, mengapa pencoblosan Pemilu di Indonesia masih menggunakan paku?

Melansir berbagai sumber, Kamis (01/02/2024) cara pemungutan suara dengan mencoblos menggunakan paku telah ada sejak zaman Presiden Soeharto. Paku menjadi alat yang paling sering digunakan untuk pemilu karena sangat mudah dimanipulasi.

 Ilustrasi

Seperti diketahui, pada zaman Presiden Soeharto, hanya ada tiga partai yang ikut kontestasi, yakni PPP, PDIP, dan Golkar. Dan pada zaman itu, semua hal dilakukan agar Golkar menjadi partai yang memenangkan pemilu.

Saat ada masyarakat yang tidak mencoblos partai Golkar, maka para petugas akan menusuk surat suara itu di bagian lain agar surat suaranya tidak sah. Dengan begitu, kendati banyak yang tidak memilih, Golkar akan selalu menjadi pemenangnya.

 BACA JUGA:

Karena telah menjadi kebiasaan melakukan pemilu dengan paku sejak dulu, hal ini menjadi sangat sulit dirubah di Indonesia. Pasalnya, masih banyak masyarakat Indonesia berpendidikan rendah yang kurang paham sistem pemilihan selain paku, baik itu centang menggunakan pulpen ataupun dengan media elektronik.

Seperti halnya yang terjadi pada Pemilu 2004 dan 2009. Pada masa itu, pemerintah sudah mengupayakan pemilu dilakukan dengan menggunakan pulpen. Namun hasilnya sangat kacau. Masyarakat masih banyak yang tidak memahami metode tersebut sehingga banyak sekali surat suara yang tidak sah.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement