JAKARTA - Sejumlah peristiwa pelanggaran hak asasi manusia (HAM) terjadi di masa kepimpinan Presiden Soeharto. Salah satunya peristiwa Talangsari 1989 di Dusun Talangsari III, Desa Rajabasa Lama, Lampung Timur.
Berawal dari seorang tokoh bernama Warsidi yang dicurigai aparat karena ingin membuat gerakan untuk menjadikan Negara Islam di Indonesia.
Aparat mencium aktivitas Warsidi dan pada 6 Februari 1989 pemerintah setempat melalui Musyawarah Pimpinan Kecamatan (MUSPIKA) dipimpin oleh Danramil Way Jepara Kapten Soetiman mendatangi kediamannya untuk meminta keterangan kepada Warsidi beserta pengikutnya.
Namun, kedatangan Kapten Soetiman disambut dengan perlawanan oleh pengikut Warsidi. Akibatnya, Kapten Soetiman tewas dan dikuburkan di Talangsari.
Pemerintah pun langsung mengambil tindakan tegas dan mengirim tentara dari Korem Garuda Hitam tanggal 7 Februari 1989 yang saat itu dipimpin oleh Kol Hendropriyono. Akibat serangan tersebut, puluhan korban tewas termasuk Warsidi dan ratusan lainnya ditangkap.
“Saat ini Komnas HAM sudah selesai melakukan penyelidikan dan diserahkan Ke Kejagung dam sudah 150 korban yang diselidiki Komnas HAM,” kata aktivis Komite untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Ali Nursahid kepada okezone, Kamis 9 Juni 2011 silam.
Menurutnya, tidak mungkin seorang Warsidi yang juga tewas pada peristiwa tersebut membuat Negara Islam. “Kelompok mereka jumlahnya tidak terlalu banyak mana mungkin membuat Negara Islam. Pemerintah mengirim tentara untuk melakukan penyerangan, Tapi tuduhan mereka akhirnya tidak terbukti, akibatnya banyak nyawa yang melayang,” ujarnya.
Dikatakan Ali, saat ini banyak korban yang sudah islah (damai) dengan pemerintah, namun ada juga yang tidak ingin diselesaikan secara kekeluargaan. “Ada keluarga korban yang ingin prosesnya dilanjutkan ke pengadilan,” pungkasnya.
Kronologi Peristiwa Talangsari
Tragedi Talangsari berawal dari penetapan semua partai politik hingga ormas yang harus berasaskan Pancasila sesuai dengan usulan pemerintah kepada DPR dalam UU Nomor 3 Tahun 1985.
Jika tak mengusung asas Pancasila, ormas tersebut dianggap menganut membahayakan negara karena menganut ideologi terlarang.
Hal ini terjadi pada kelompok kecil bernama Usroh yang diketuai Abdullah Sungkar. Kelompok Usroh diburu oleh pemerintah Orde Baru. Kelompok ini melarikan diri ke Lampung.
Di Lampung, Usroh bergabung dengan pengajian Warsidi, seorang petani sekaligus guru ngaji. Kehadiran kelompok Usroh diterima oleh Warsidi karena memiliki tujuan yang sama, yakni mendirikan kampung kecil untuk menjalankan syariat Islam dalam kehidupan sehari-sehari.
Pada 1 Februari 1989, Camat Way Jepara Zulkifli Malik bertukar surat dengan Komandan Rayon Militer Way Jepara Kapten Soetiman. Dalam suratnya, Zulkifli menjelaskan informasi yang didapat dari Kepala Desa Rajabasa Lama, Amir Puspa Mega dan Kepala Dusun Talangsari, Sukidi, tentang keberadaan pengajian yang dianggap berkaitan dengan gerakan Islam garis keras.
Kapten Soetiman meminta Kepala Desa untuk mengawasi Warsidi dan kelompoknya. Laporan dari Kepala Desa terkait aktivitas kelompok Warsidi diteruskan ke Kodim Lampung Tengah, Mayor Oloan Sinaga.
Mayor Oloan mengirimkan sejumlah anggotanya mengawasi kelompok Warsidi ke Dusun Talangsari. Kedatangan para anggota Kodim menyebabkan bentrokan dengan masyarakat hingga menewaskan Kapten Soetiman.
Pada 7 Februari 1989, sekitar pukul 04.00 WIB pagi, militer menyerang Talangsari. Penyerangan itu dilakukan di bawah Komando Korem Garuda Hitam 043 yang dipimpin Kolonel Hendropriyono. Penyerangan dilakukan dengan menyasar jamaah pondok pesantren pengajian Warsidi.
Penyerangan dilakukan saat jamaah yang datang dari berbagai daerah bersiap mengadakan pengajian akbar. Dengan posisi tapal kuda, para tentara mengarahkan tembakan secara bertubi-tubi dan melakukan pembakaran pondok rumah panggung.
Dalam peristiwa itu, sebanyak 246 jamaah dinyatakan hilang, ratusan orang disiksa, ditangkap, ditahan, dan diadili secara semena-mena.
(Fakhrizal Fakhri )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.