Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Ramalan Jayabaya: Ciri-Ciri Satria Piningit, Sang Penyelamat yang Membawa Zaman Keemasan Nusantara

Tim Okezone , Jurnalis-Kamis, 16 Mei 2024 |07:07 WIB
Ramalan Jayabaya: Ciri-Ciri Satria Piningit, Sang Penyelamat yang Membawa Zaman Keemasan Nusantara
Prabu Jayabaya (Foto: Ist)
A
A
A

JAKARTA - Prabu Jayabaya, Raja Kediri yang berkuasa dari tahun 1135 hingga 1159, terkenal karena kemampuannya meramalkan masa depan. Salah satu ramalannya yang paling terkenal memprediksi bencana besar yang akan memakan banyak korban jiwa serta perubahan cuaca yang ekstrem.

Ramalan-ramalan Prabu Jayabaya terdokumentasi dalam berbagai naskah seperti Serat Jayabaya Musarar, Serat Pranitiwakya, dan juga di Babad Tanah Jawi. Di tengah masa-masa sulit ini, Jayabaya meramalkan akan muncul seorang penyelamat yang dikenal sebagai "Satria Piningit."

"Tapi, setelah masa yang paling berat itu, akan datang zaman baru, zaman yang penuh kemegahan dan kemuliaan. Zaman Keemasan Nusantara. Dan zaman baru itu akan datang setelah datangnya sang Ratu Adil, atau Satria Piningit," ujar Masud Thoyib Adiningrat, Budayawan Jawa yang juga Pengageng Kedaton Jayakarta.

Dalam ramalannya, Jayabaya menggambarkan ciri-ciri Satria Piningit sebagai berikut:

"Akan ada dewa tampil berbadan manusia berparas seperti Batara Kresna berwatak seperti Baladewa bersenjata trisula wedha (bait 159)"

Masud menjelaskan bahwa "Akan ada dewa berbadan manusia”: menyebutkan bahwa Satria Piningit berwujud seperti kita manusia biasa, tetapi sejatinya beliau adalah dewa. Untuk mengetahui sejatinya seseorang tidaklah mudah, kecuali sesamanya atau lebih tinggi derajatnya. itulah yang menyebabkan Satria Piningit," ujar Masud.

Satria Piningit digambarkan memiliki paras tampan seperti Batara Kresna dan sifat tegas seperti Baladewa.

Bagian "bersenjata trisula wedha" kemungkinan besar merupakan kiasan. "Bersenjata trisula wedha, untuk kalimat yang satu ini sepertinya di maknai secara tersirat, karena tidaklah mungkin Satria Piningit yang dipingit itu membawa trisula kemana-mana, akan terlihat mencolok yang menyebabkan dirinya tidak piningit lagi," ujarnya.

Ia menambahkan, trisula wedha bisa diartikan sebagai kesatuan tiga elemen menjadi satu, seperti ilmu, amal, dan iman; atau bumi, langit, dan isinya; atau kiri, kanan, dan tengah. Hal ini mencerminkan sifat-sifat mulia yang dimiliki oleh banyak dewa dalam agama Hindu.

Ramalan Jayabaya ini kemudian digubah oleh Raden Ngabehi Ronggowarsito (1802-1873), seorang pujangga besar dari Keraton Solo.

(Arief Setyadi )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement