Pada usia 16 tahun tepatnya pada tahun 628, Ratu Jay Shima dilamar oleh seorang putra raja dari Jawa, yang pusat pemerintahannya berada di wilayah Adi Hyang atau Dieng.
Nama pangeran yang melamarnya adalah Kartikeyasingha. Sesudah menikah dengan Kartikeyasingha yang masih keponakan Raja Melayu Sribuja (Palembang), Ratu Jay Shima diboyong ke Adi Hyang. Di sinilah Ratu Shima menjadi pemeluk agama Hindu Siwa yang sangat taat.
Pernikahan Ratu Shima dengan Kartikeyasingha menimbulkan benih cinta yang dikandung Ratu Shima. Ratu Shima naik tahta setelah suaminya, Kartikeyasingha, meninggal pada tahun 674. Karena anak-anaknya, Parwati dan Narayana, masih terlalu muda untuk memerintah, Ratu Shima mengambil alih tahta pada usia 63 tahun. Sebagai seorang janda, Ratu Shima mendapatkan lamaran dari Sri Jayanasa, raja Sriwijaya, yang memiliki tujuan politik.
Namun, lamaran tersebut ditolak oleh Ratu Shima, menyebabkan kekecewaan Sri Jayanasa yang kemudian berencana menyerang Kalingga pada tahun 686.
(Rina Anggraeni)