JAKARTA – Pasukan Pertahanan Israel (IDF) berpotensi “runtuh” di tengah perang berkepanjangan di berbagai front, termasuk konflik dengan Hamas dan Hizbullah. Peringatan itu disampaikan langsung oleh Kepala Staf IDF, Letnan Jenderal Eyal Zamir, dalam pidato di rapat kabinet keamanan.
“Saya mengangkat 10 bendera merah (tanda bahaya) sebelum IDF runtuh dengan sendirinya,” kata Zamir selama rapat kabinet pada Rabu (25/3/2026).
Dilaporkan Jerusalem Post, mengutip sumber-sumber IDF, ada kekhawatiran besar karena organisasi militer Israel tersebut mengalami kekurangan pasukan yang parah, terutama di tengah perang yang sedang berlangsung.
Bahkan di masa damai, Israel masih membutuhkan lebih banyak tentara di perbatasan Gaza, Lebanon, Suriah, dan Tepi Barat, kata sumber-sumber tersebut. Jika pemerintah tidak menambah jumlah tentara, maka akan ada titik-titik dengan kekurangan besar, tambah mereka.
Selain itu, belum ada undang-undang yang diberlakukan untuk secara signifikan meningkatkan wajib militer bagi kaum Haredi (ultra-Ortodoks), yang berkontribusi pada kekurangan tenaga kerja.
Sebelum melancarkan Operasi Roaring Lion dengan menyerang Iran, pemerintah sempat memajukan undang-undang kontroversial yang dikatakan akan memberlakukan wajib militer bagi kaum Haredi. Namun, rancangan undang-undang itu ditunda oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dengan alasan persatuan dan tidak akan dilanjutkan selama perang.
Sejak perang di Gaza dipicu oleh serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, militer berulang kali menyampaikan kepada anggota parlemen bahwa mereka kekurangan sekitar 12.000 pasukan akibat tekanan konflik dan tantangan militer lainnya. Kini, dengan pecahnya konflik baru, kekurangan prajurit membuat IDF semakin melemah.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.