Ia melihat dua tujuan dari narasi tersebut, yakni membangun persepsi internasional bahwa Papua merupakan wilayah yang sedang mengalami penjajahan. Kemudian, menciptakan jarak psikologis antara masyarakat Papua dan masyarakat lainnya yang selama ini hidup dalam ikatan kebangsaan.
“Padahal rakyat Papua adalah bagian dari perjalanan panjang bangsa Indonesia. Mereka adalah saudara sebangsa yang juga memiliki kontribusi dalam perjuangan dan pembangunan nasional,” ujarnya.
Rico menegaskan, kebebasan berekspresi tidak boleh digunakan untuk membangun narasi yang justru mengancam persatuan. Untuk itu, ia menekankan pentingnya menjaga ruang demokrasi, termasuk dalam menyampaikan kritik.
“Papua membutuhkan lebih banyak ruang dialog yang konstruktif, bukan narasi yang terus-menerus membangun permusuhan dan memisahkan masyarakat Papua dari keluarga besar bangsa Indonesia,” katanya.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.