Meski demikian, Prabowo menegaskan, tidak mempermasalahkan adanya perbedaan pendapat. Menurutnya, setiap orang berhak memiliki pandangan masing-masing. Namun, ia mengingatkan bahwa di saat Indonesia masih disibukkan dengan kegaduhan politik, banyak negara lain terus bergerak menuju kemajuan dan kesejahteraan.
"Silakan kalau ada yang berpendapat lain, itu hak. Saya katakan kita berbeda. Kalau ada yang berpendapat bahwa gaduh, ribut, bakar-bakar, anarki, kebencian, permusuhan, maki-memaki itu produktif, sementara negara lain menuju kesejahteraan, menuju terobosan, menuju kekayaan," ucapnya.
Prabowo mengajak seluruh elemen bangsa untuk merenungkan arah perjalanan negara. Ia mengaku selalu mengedepankan pendekatan persuasif dalam berpolitik. Meski empat kali kalah dalam kontestasi pemilu sebelum akhirnya terpilih sebagai presiden, ia mengaku tidak pernah mengganggu pemerintahan yang memperoleh mandat dari rakyat.
"Saya selalu berusaha persuasif. Saya sebagai pemimpin politik dipilih secara demokratis. Saya maju ke rakyat, lima kali minta mandat, empat kali tidak diberi mandat. Empat kali saya kalah, tetapi saya tidak mengganggu pemimpin yang mendapat mandat," imbuhnya.
Menurut Prabowo, sikap tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap sistem demokrasi yang telah dipilih bangsa Indonesia. Dalam demokrasi, kata dia, kedaulatan berada di tangan rakyat dan diwujudkan melalui pemilihan umum.
"Karena saya sadar, saya mengerti alternatifnya apa? Karena kita sudah sepakat, kita ingin hidup sebagai negara di mana kedaulatan rakyat yang berkuasa. Jadi kedaulatan rakyat wujudnya adalah demokrasi, demokrasi wujudnya pemilihan," pungkasnya.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.