MADRID - Hampir semua dari puluhan ribu migran yang memasuki wilayah Ceuta di Afrika Utara, Spanyol, telah pergi meninggalkan daerah tersebut pada Sabtu (1/8/2026), kata para pejabat. Beberapa negara Eropa telah memperketat kontrol perbatasan mereka menyusul insiden tersebut untuk mencegah masuknya migran secara tiba-tiba.
Diperkirakan 60.000 migran memasuki Ceuta hanya dalam beberapa hari dari negara tetangga Maroko, kata Kepala Pemerintahan Regional wilayah tersebut, Juan Jesús Vivas, kepada wartawan. Namun pada Sabtu, Menteri Dalam Negeri Spanyol mengatakan hampir semuanya telah pergi.
"Situasinya hampir sepenuhnya berbalik," kata Fernando Grande-Marlaska kepada wartawan, sebagaimana dilansir TRT.
Di bawah pengawasan tentara dan polisi Spanyol pada Sabtu pagi, para migran muda yang tersisa terus menyeberang kembali ke Maroko, seperti yang dilihat oleh wartawan AFP. Siapa pun yang terlalu lama berada di jalur pantai segera diusir kembali oleh tentara.
Untuk menyeberang ke Ceuta, banyak yang berenang melewati penghalang perbatasan kecil yang menjorok ke Laut Mediterania. Setidaknya 67 orang tewas dalam upaya tersebut, kata Grande-Marlaska sambil memberikan angka terbaru pada Sabtu.
Masuknya migran secara tiba-tiba telah memicu kepanikan politik di Eropa. Dua puluh dua negara Uni Eropa mengeluarkan surat terbuka bersama pada Sabtu yang menyerukan pertemuan video para menteri dalam negeri blok tersebut "sebagai masalah mendesak" untuk menyepakati respons terkoordinasi yang cepat, dan untuk "mencegah penyeberangan tak terkendali lebih lanjut".
Prancis telah memperketat pemeriksaan di perbatasannya dengan Spanyol dan mengatakan akan meningkatkan kehadiran polisi di sana lima kali lipat menjadi 334 petugas dan gendarme pada Sabtu.
Italia menangguhkan perjanjian Schengen dengan Spanyol yang memungkinkan pergerakan bebas visa antarperbatasan mulai Sabtu selama satu bulan. Beberapa negara Eropa telah menyarangkan agar keanggotaan Spanyol di zona pergerakan bebas Schengen ditangguhkan, meskipun hal itu hampir tidak mungkin dilakukan dalam praktiknya.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, dalam surat kepada kepala Komisi Eropa dan Dewan Eropa, mengecam reaksi "egois" dari beberapa negara Uni Eropa. Ia mendukung pertemuan video para menteri dalam negeri tersebut.
Madrid telah mengerahkan pasukan, polisi, drone, penyelam, dan kapal ke pos terdepan Afrika Utara yang telah dikelolanya selama berabad-abad.
Setelah semalaman berkeliaran di pantai dan jalanan Ceuta, serta puluhan pria tidur di pasir, para jurnalis mengamati pada Sabtu beberapa anak muda berbalik untuk mengucapkan "adios" atau "selamat tinggal" kepada petugas sebelum menyeberang kembali ke Maroko.
Lebih banyak tentara berjaga di pantai kecil di sebelah pagar perbatasan, ditempatkan di bawah payung di pagi hari. Kementerian Dalam Negeri Spanyol mengatakan penghalang pneumatik baru sepanjang 500 meter telah dipasang di dekat pos perbatasan untuk memperkuat keamanan.
Ceuta, wilayah seluas 18,5 kilometer persegi, dan enclave Melilla di dekatnya adalah satu-satunya dua perbatasan darat Eropa dengan Afrika. Gelombang migran sebelumnya telah terjadi selama ketegangan antara Spanyol dan Maroko, termasuk pada tahun 2021, yang menyebabkan lebih dari 10.000 migran memasuki Ceuta hanya dalam dua hari.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.