JAKARTA - Yayasan Harapan Ibu Pondok Pinang (YHI PP) membantah klaim bahwa ratusan senjata yang ditemukan di lingkungan sekolah berkaitan dengan kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) menembak. Tim hukum yayasan, Alvons Kurnia Palma, meminta pihak yang menyebut keberadaan senjata untuk kebutuhan ekstrakurikuler agar membuktikan dasar dan persetujuan kegiatan tersebut.
"Dapat dikatakan bahwa orang yang mengatakan itu harus membuktikan apakah memang benar yang namanya ketua pembina lama, Pak Suryo yang dikatakan waktu itu ya itu memang sudah mendapatkan persetujuan," kata Alvons di Jakarta Selatan, Minggu (9/8/2026).
Menurut yayasan, sejak berdiri pada 1979, Sekolah Harapan Ibu tidak pernah memiliki kegiatan ekskul menembak. Yayasan juga menilai area sekolah tidak memungkinkan digunakan untuk aktivitas tersebut karena seluruh kawasan sekolah merupakan ruang terbuka yang digunakan peserta didik.
"Keberadaan senjata untuk ekstrakurikuler perlu ditegaskan sejak sekolah berdiri tidak pernah ada ekstrakurikuler menembak, karena tidak mungkin menembak diadakan di dalam area sekolah juga, semua area sekolah adalah tempat terbuka untuk bermain anak, yang tentunya tidak aman untuk anak-anak," ujarnya.
Alvons mengatakan, klaim mengenai persetujuan almarhum Letjen Soerjo terhadap kegiatan tersebut juga perlu dibuktikan. Menurut dia, pada periode yang disebut sebagai awal pengajuan program, kondisi kesehatan Soerjo sudah mengalami keterbatasan.
"Oleh sebab itu, ketika ada yang mengatakan bahwa ini merupakan kegiatan ekstrakurikuler dan itu sudah disetujui tolong dibuktikan. Tolong dibuktikan. Jangan sampai ini menjadi suatu hal-hal yang melegitimasi sesuatu hal yang sebenarnya tidak benar," ujarnya.
Yayasan menyatakan fokus utama mereka saat ini adalah memastikan lingkungan sekolah aman bagi siswa. Mereka menilai keberadaan senjata di area pendidikan bertentangan dengan kepentingan terbaik anak dan tidak sejalan dengan visi pendirian sekolah.