JAKARTA - Sebuah bencana tambang runtuh telah menyebabkan lebih dari 100 orang meninggal dunia di wilayah barat Republik Afrika Tengah (CAR), dekat perbatasan dengan Kamerun. Sukarelawan Palang Merah melaporkan pada Rabu (19/8/2026) bahwa lebih dari 100 jenazah telah ditemukan dan jumlah korban diperkirakan akan bertambah.
Menurut laporan media setempat, insiden tersebut terjadi pada Selasa (18/8/2026) di Desa Zamboye, yang berjarak sekitar 50 km (31 mil) dari kota Baboua di Republik Afrika Tengah dan beberapa kilometer dari Garoua-Boulai di wilayah timur Kamerun.
Gervais Ganagoroh, seorang sukarelawan Palang Merah yang terlibat dalam upaya pertolongan, mengatakan kepada kantor berita Associated Press pada Rabu bahwa lebih dari 100 jenazah telah ditemukan dari lokasi runtuhan. Angka korban ini dikonfirmasi oleh sumber-sumber lokal lainnya kepada AFP.
Jumlah korban diperkirakan akan bertambah karena masih ada beberapa orang yang hilang atau terjebak di bawah reruntuhan, menurut pejabat kota Bertrand Be Yangue.
"Menemukan mereka dalam keadaan hidup akan menjadi sebuah keajaiban," ujar Yangue. "Kami merasa sedih dan sangat terpukul melihat para pemuda dan pemudi kehilangan nyawa setelah datang ke tambang ini demi menyelamatkan keluarga mereka dari keputusasaan."
Souleymane Bi, wakil wali kota prefektur Nana-Mambere di Republik Afrika Tengah, mengatakan: "Ini sungguh mengerikan... Dan kami menyerukan bantuan dari berbagai organisasi serta semua orang yang berhati mulia untuk turut membantu."
Peristiwa tanah longsor ini diduga disebabkan oleh "runtuhnya beberapa terowongan bawah tanah tempat para penambang sedang bekerja," demikian pernyataan jaksa penuntut umum Baboua, yang juga mengumumkan dimulainya penyelidikan hukum terkait insiden tersebut.
Cedric Mbango, seorang penambang di lokasi tersebut, menggambarkan insiden itu sebagai peristiwa yang "membawa bencana".
“Tanah runtuh total dan mengubur sejumlah orang. Saat saya berbicara dengan Anda, masih ada orang-orang yang terkubur. Upaya penyelamatan sedang berlangsung,” ujarnya kepada AFP.
Juru bicara pemerintah, Evariste Ngamana, menyampaikan simpati kepada keluarga para korban dan menyatakan bahwa pihak berwenang sedang “berupaya keras memberikan bantuan dan pertolongan” bagi mereka yang terdampak.
Gregoire Mvongo, gubernur wilayah Kamerun timur, mengatakan melalui siaran radio publik CRTV bahwa mereka “bekerja sama erat dengan rekan-rekan dari Republik Afrika Tengah untuk menangani dampak dari tragedi ini”.
Runtuhnya lokasi tambang rakyat merupakan hal yang umum terjadi di Republik Afrika Tengah (CAR), tempat ribuan orang bekerja dalam kegiatan penambangan skala kecil di luar kendali pemerintah. Pekerjaan ini berisiko tinggi karena para penambang biasanya tidak memiliki perlindungan yang memadai, dan kecelakaan yang terjadi sering kali berakibat fatal.
Pada Juni, peristiwa tanah runtuh menewaskan puluhan orang di lokasi tambang emas Be-Mbari, yang juga terletak di perbatasan Kamerun.
Pada pertengahan Maret, tanah longsor menewaskan tujuh orang di sebuah tambang di desa Ngourroum, wilayah barat Republik Afrika Tengah.
Sebanyak 20 orang lainnya tewas pada Februari di Gordi, wilayah timur laut negara tersebut.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.