Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Viral Rekening Aktivis Botok Pati Diblokir, MUI: Merenggut Hak Warga untuk Hidup Sejahtera!

Achmad Al Fiqri , Jurnalis-Selasa, 25 Agustus 2026 |22:00 WIB
Viral Rekening Aktivis Botok Pati Diblokir, MUI: Merenggut Hak Warga untuk Hidup Sejahtera!
Viral Rekening Aktivis Botok Pati Diblokir/ist
A
A
A

JAKARTA - Wakil Ketua Umum MUI, Buya Anwar Abbas, menanggapi pemblokiran rekening bank aktivis Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) Supriyono alias Botok.  Dia mengingatkan aparat penegak hukum pembatasan akses keuangan warga yang belum terbukti melakukan tindak pidana merupakan pelanggaran.

Anwar menegaskan, unjuk rasa atau berdemonstrasi adalah hak konstitusional warga negara yang dijamin secara sah oleh peraturan perundang-undangan.

Oleh karena itu, tindakan membekukan rekening milik aktivis dengan tujuan membatasi atau menggagalkan aksi demonstrasi merupakan bentuk pembatasan hak yang tidak dibenarkan.

​"Memblokir rekening orang yang akan berdemonstrasi dengan tujuan mencegah yang bersangkutan agar tidak melakukan demonstrasi itu sama saja artinya dengan mencegah dan menghalangi warga negara untuk mendapatkan serta mempergunakan haknya," ujar Anwar Selasa (25/8/2026).

Menurutnya, tindakan pemblokiran rekening sepihak secara langsung mencederai prinsip keadilan sosial dan merenggut hak dasar warga untuk hidup sejahtera.

Ia mengingatkan, tugas utama negara dan pemerintah adalah melindungi seluruh tumpah darah, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta memajukan kesejahteraan umum sebagaimana amanat konstitusi.

​"Setiap orang berhak untuk hidup sejahtera. Memblokir rekening warga sama saja artinya negara atau pemerintah menghambat warga untuk mendapatkan haknya untuk hidup sejahtera. Itu berarti pemerintah tidak melaksanakan tugasnya seperti yang diamanatkan oleh konstitusi," ujarnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, dampak dari kebijakan pencegahan finansial ini dinilai memiliki daya rusak yang sangat besar.

Bahkan, ia menilai, pemblokiran itu tak hanya merugikan sang aktivis secara individu, tetapi juga mematikan ekonomi keluarganya serta merugikan para pelaku usaha atau pengusaha lokal yang produknya dibutuhkan oleh keluarga tersebut untuk bertahan hidup.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement