JAKARTA - Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (BPPIK) Aries Marsudiyanto menekankan urgensi penguatan karakter bangsa serta peran strategis media massa arus utama dalam menyajikan informasi yang akurat dan terverifikasi.
Langkah tersebut dinilai krusial untuk membendung maraknya manipulasi informasi di media sosial yang berpotensi merusak moral generasi muda dan mengganggu stabilitas nasional.
Aries menyoroti terjadinya degradasi etika dan perilaku publik yang memicu maraknya aksi kekerasan di tengah masyarakat belakangan ini. Seluruh jajaran pemerintah daerah, kementerian, hingga lembaga negara dituntut mengambil tanggung jawab bersama dalam memulihkan jati diri bangsa yang santun dan beradab.
Narasi demikian disampaikan Aries dalam gelaran Pemimpin Daerah Awards 2026 yang berlangsung di iNews Tower, Jakarta, Kamis (27/8/2026). Aries juga didapuk menjadi juri dalam perhelatan ini. Adapun penghargaan ini merupakan apresiasi bagi kepala daerah yang memberikan dampak nyata bagi pembangunan melalui kebijakannya.
"Dulu kita bangga Indonesia terkenal ramah tamah, beradab, dan murah senyum di mata dunia, tetapi kini terjadi degradasi karakter bangsa di mana kekerasan dan kejahatan seolah menjadi biasa. Ini tanggung jawab kepala daerah, kementerian, dan lembaga untuk mengembalikan moral serta etika bangsa kita, karena kalau kita selalu ribut, Indonesia tidak akan pernah maju," ujar Aries.
Aries memaparkan bahwa Indonesia dikaruniai potensi sumber daya alam yang melimpah, di mana sekitar 82 persen cadangan mineral dunia yang menjadi bahan baku pembuatan pesawat, mobil, laptop, hingga satelit berada di Tanah Air.
Namun, lompatan kemajuan industri tersebut kerap terhambat akibat konflik internal dan kegaduhan yang tidak produktif.
Di sisi lain, kedewasaan berdemokrasi dinilai mutlak dijaga dengan menghormati konsensus konstitusi pasca-Reformasi yang membatasi masa jabatan presiden maksimal dua periode selama lima tahun.
Sikap saling menghargai aturan hukum dipandang penting agar perbedaan pandangan tidak berujung pada aksi demonstrasi anarkis dan pembakaran yang hanya merugikan bangsa sendiri serta menguntungkan pihak asing.
Dalam kesempatan tersebut, apresiasi turut diberikan kepada iNews atas penyelenggaraan Pemimpin Daerah Awards yang memacu prestasi kepala daerah, kementerian, lembaga, serta aparat penegak hukum melalui proses penjurian yang objektif dan berintegritas.
Maraknya gesekan sosial di tengah masyarakat dinilai tidak terlepas dari pengaruh media sosial yang kerap bertindak sebagai pemicu keresahan publik. Penyalahgunaan teknologi digital modern dikhawatirkan dapat meracuni pemikiran generasi muda apabila ruang siber dipenuhi oleh konten-konten provokatif.
"Kompor dari keributan ini adalah media sosial yang kini sangat sulit dibedakan mana fakta dan mana hoaks akibat manipulasi teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan deepfake. Video-video lama didaur ulang seolah-olah terjadi saat ini, sehingga anak-anak muda kita diracuni oleh informasi yang tidak jelas dan menyesatkan," jelasnya.
Masyarakat pun diajak untuk lebih bijak dalam menggunakan gawai dan media sosial dengan menebarkan narasi kebaikan melalui kontribusi jempol digital yang positif di lingkungan keluarga maupun masyarakat luas.
Untuk mencegah kekaburan informasi yang berisiko memicu instabilitas politik dan keamanan nasional, publik didorong untuk kembali merujuk pada saluran berita yang kredibel dan memiliki badan hukum resmi. Media massa arus utama memegang tanggung jawab fundamental sebagai pilar edukasi bangsa dan rujukan utama penjernih fakta.
"Poin sentral untuk mendapatkan informasi yang akurat adalah kembali ke media-media mainstream yang resmi, baik televisi maupun media cetak yang sah. Ini menjadi instrumen edukasi penting bagi anak bangsa agar kita tidak mudah terpecah belah dan dapat menjaga stabilitas nasional," tukasnya.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.