Salah satu korban selamat, Khair al-Sayyed Jabara, mengatakan dirinya bersama sejumlah penambang lainnya berusaha menggali reruntuhan sepanjang malam menggunakan peralatan yang mereka miliki.
"Kita tidak tahu berapa banyak lagi yang masih berada di dalam," katanya kepada AFP, Rabu.
Menurut Jabara, alat berat sangat dibutuhkan untuk mempercepat proses pencarian dan penyelamatan para penambang yang masih terjebak.
Penambang lainnya, Amin Suleiman, menyoroti kondisi lubang tambang yang saling berdekatan. Menurut dia, ketika satu lubang runtuh, kondisi tersebut dapat memengaruhi lubang di sebelahnya.
Sumber-sumber lokal mengatakan kepada Reuters bahwa tingginya jumlah korban jiwa diduga berkaitan dengan minimnya prosedur keselamatan dan peralatan penyelamatan di lokasi pertambangan.
Jaringan Dokter Sudan, kelompok medis yang berbasis di Khartoum, menyebut proses pencarian masih berlangsung. Kelompok tersebut memperingatkan jumlah korban tewas masih dapat bertambah karena lokasi tambang tidak dilengkapi perlindungan dasar yang memadai bagi para pekerja.