Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Pers Terancam Blogging

Satria Nugraha , Jurnalis-Kamis, 13 Desember 2007 |20:03 WIB
Pers Terancam Blogging
A
A
A

YOGYAKARTA-Media massa saat ini berkembang dengan pesat. Peran media bila dahulu disebut-sebut sebagai pilar keempat demokrasi, karena fungsi media menyalurkan kepentingan-kepentingan public ke pemerintah, saat ini terus berkembang.

Pers juga tumbuh sebagai sebuah kesatuan bisnis. "Saat ini muncul keprihatinan bahwa pers akan mengkompromikan prinsip-prinsip bermedia mereka demi menjaga kepentingan-kepentingan tertentu," kata Susanto Pudjomartono, mantan pemimpin Redaksi Jakarta Post dalam Seminar Internasional Komunikasi, Rethinking Press as the Fouth Estate; Reflection of the Press Practice in Southeast Asia, Kamis (13/12/2007) Ruang seminar gedung Pascasarjana UGM, Yogyakarta.

Susanto juga menyoroti kemunculan teknologi baru yang bernama â€~blogging' yang dapat mengancam atau bahkan membunuh pers sebagai pilar keempat demokrasi karena dalam blog, penulis dapat menyampaikan berita yang seterbuka mungkin.

"Kepentingan ini berpengaruh dari pemilik media untuk memanipulasikan objektivtas serta ketidakberpihakan mereka demi kepentingan tertentu," tegasnya

Sementara itu, pakar komunikasi UGM Drs Ana Nadhya Abrar menegaskan tantangan terbesar pers sebagai elemen yang esensial dalam proses demokratisasi, justru banyak menghadapi hambatan dari pihak membatasi demokratisasi. Dikemukan oleh Abrar, salah satu syarat  utama bagi pers untuk menjalankan fungsi-fungsinya adalah pers harus mendapatkan dan mempertahankan kepercayaan serta respek dari pembacanya, dari para pengambil keputusan  baik di ranah politik maupun ranah social serta dari masyarakat luas.

Keberadaan pers sebagi pilar keempat demokrasi setelah eksekutif, legislatif dan yudikatif, memiliki peranan yang sangat penting dalam membantu masyarakat dan komunitas lokal untuk memahami perubahan yang terjadi.

"Justru hal ini memberikan beban berat bagi pers, karena dalam menjalankan fungsinya justru menjadikan pers sebagai target yang mudah diserang oleh pihak-pihak tertentu yang berusaha membatasi demokratisasi," ujarnya.

Abrar menambahkan kebebasan pers yang begitu impresif telah menyebabkan para jurnalis-jurnalis bebas untuk menyampaikan berita berdasarkan nilai-nilai yang mereka yakini. Pemilik perusahaan pers pun tidak lagi harus patuh pada politik imperatif yang memberatkan seperti diterapkan oleh para korporatis-kororatis pemegang kekuasaan.

"Pemilik perusahaan pers ini telah mencari cara rasional memenuhi kepentingan ekonomi mereka untuk menyokong sisi financial. Tapi obsesi ini tidak membelokkan mereka dalam menyatukan kewajiban-kewajiban moral serta kultural di era desentralisasi dan demokratisasi," katanya.

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement