DENPASAR - Believe it or not! Pemkot Denpasar menggelar lomba antar kuburan dalam rangka HUT kota itu ke-16. Piala wali kota pun diperebutkan.
Sedikitnya, empat kuburan di ibu kota provinsi Bali ini turut serta memeriahkan putaran final kompetisi bertajuk Setra Mandala memperebutkan piala walikota AA Ngurah Puspayoga.
Sebelumnya, keempat kuburan wakil dari setiap kecamatan di Denpasar ini telah menyingkirkan para pesaingnya dalam babak kualifikasi. Keempat kuburan finalis lomba meliputi Setra Taman Poh Manis mewakili Denpasar Timur, Setra Renon mewakili Denpasar Selatan, Setra Denpasar mewakili Denpasar Barat, dan Setra Ubung mewakili Denpasar Utara.
Lomba ini bertujuan untuk menghilangkan kesan angker yang sudah melekat pada kuburan. Pasalnya, selama ini kesan tersebut melekat kuat pada pemikiran warga Bali.
Selain itu, kompetisi ini juga menargetkan menggugah kesadaran warga untuk memelihara kuburan. Sebab, pesatnya pembangunan di Denpasar mengancam keberadaan ruang hijau.
"Satu satunya lahan yang tidak akan dijual adalah kuburan. Nah, dikuburan pasti ada pohon-pohon besar. Bayangkan ada sekitar 98 kuburan dari 35 desa adat di Denpasar. Satu kuburan rata-rata luasnya 1,5 Ha. Jika dirawat maka tempat-tempat ini akan menjadi paru-paru kota," ujar Ketua Panitia Lomba, I Bagus Gede Wiyana, Sabtu (23/2/2008).
Penilaian lomba bukan berdasarkan pada nilai keangkeran kuburan. Melainkan pada sistem tata letak bangunan di areal kuburan, keindahan, dan kebersihan, serta kesesuaian aturan adat dengan kondisi kuburan.
"Kuburan Bali tidak seperti di Jawa atau tempat lain. Di sini serta (kuburan) harus ada pura, pepohonan besar, dan batas yang jelas antara wilayah kuburan dengan daerah diluarnya. Bangunan suci harus ada disebelah timur atau utara. Sedangkan lahan pekuburan harus ada diarah selatan atau barat," ungkapnya.
Intinya, sambung dia, kuburan harus sesuai dengan konsep Tri Hita Karana.
Selain itu, sambung dia, kuburan tidak boleh dibangun secara permanen. Alasannya, jenazah hanya dikuburkan sementara untuk menunggu upacara Ngaben. Di sisi lain, sisa material bangunan tidak boleh keluar dari area kuburan karena akan menimbulkan leteh (kotor secara spiritual.
"Jika ada bangunan cungkup atau nisan permanen maka nilainya kami kurangi," tukasnya.
Animo warga terhadap lomba ini cukup besar. Terbukti, persiapan lomba dilakukan secara serius. Mulai dari pengecatan tembok, pemangkasan pohon, pembuatan profil kuburan, hingga sambutan luar biasa terhadap tim penilai.
Di kuburan Renon misalnya. Camat Denpasar Selatan, Bendesa Adat, Anggota Dewan, dan tokoh masyarakat turut hadir menyambut tim penilai.
"Sepekan sebelum lomba kita sudah mempersiapkan diri. Mulai dari fisik bangunan sampai pembuatan buku panduan," ungkap Bendesa Adat Renon, I Made Sutama.
(Nurfajri Budi Nugroho)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.