KEDIRI - Ratusan orang tua murid mendatangi kantor Dinas Pendidikan (Dindik) Kab Kediri. Mereka menuntut pencopotan Kepala Sekolah SMPN 2 Ngadiluwih yang dinilai kerap melakukan pungutan di luar batas.
Layaknya aksi unjuk rasa mahasiswa, ratusan orang tua murid yang terdiri dari bapak dan ibu-ibu itu berjalan kaki mendatangi kantor Dindik. Dengan mengusung sejumlah poster berisi hujatan kepada Kasek Isti Hariyanti, mereka mendesak Kepala Dindik, Kardiono untuk berbuat tegas.
"Selama ini kami menjadi sapi perahan kepala sekolah. Setiap hari hampir selalu ada pungutan yang jumlahnya tidak kecil," ujar Jito, salah satu orang tua murid. Senin (25/2/2008).
Pungutan terakhir yang dianggap sudah keterlaluan adalah pengadaan komputer sekolah yang seluruh biayanya dibebankan kepada orang tua siswa. Semula Isti meminta tarikan sebesar Rp371.000/siswa.
Namun karena dianggap memberatkan, akhirnya dilakukan negosiasi hingga turun menjadi Rp150.000/siswa. Itupun dibayarkan dengan cara dicicil selama 3 bulan, mulai Februari, Maret, dan April, dengan ketentuan tidak ada tarikan lain selama kurun waktu tersebut.
Namun hal itu diingkari oleh Isti yang kembali meminta tarikan Lembar Kerja Siswa (LKS), sumbangan paving sebanyak 5 kg/anak, dan pembelian pasir sebesar Rp2.000/siswa. Ironisnya, siswa yang tidak mampu membayar langsung dicaci-maki dengan kata-kata kasar oleh Isti di depan teman-temannya. Mereka bahkan diminta meminta uang kepada orang tuanya dengan cara apapun untuk membayar tagihan itu.
"Anak saya dimaki-maki jika tidak bisa membayar. Ia juga disuruh meminta uang sampai menangis agar saya beri," ujar Suwito, orang tua siswa lainnya.
Hal lain yang membuat orang tua siswa geram adalah sikap Isti Hariyanti yang mengajukan daftar siswa tidak mampu sebanyak 800 orang dari murid-muridnya agar mendapat sumbangan. Padahal selama ini hampir seluruh siswa tersebut dibiayai oleh orang tuanya sendiri. Inilah yang memicu kecurigaan mereka terhadap Isti yang diduga menjadi makelar bea siswa karena peruntukan dana tersebut tidak jelas.
Menanggapi tuntutan itu, Kepala Dindik Kardiono menyayangkan tindakan Isti Hariyanti. Karena itu ia berjanji akan segera membentuk tim untuk mengevaluasi kinerja Isti di sekolah tersebut. Apalagi sebelumnya laporan serupa juga pernah disampaikan orang tua murid terhadap ulah Isti yang dikenal doyan duit.
"Selama tim evaluasi kami bekerja, jangan ada yang membayar sepeserpun kepada sekolah," tegas Kardiono.
Kasus penyimpangan keuangan bukan pertama kalinya terjadi di SMPN 2 Ngadiluwih. Sebelumnya Kepsek Isti Hariyanti sempat diperiksa Kejaksaan Negeri Kediri karena tidak bisa mempertanggungjawabkan proses rehab sekolah. Sayangnya hingga kini kasus tersebut mengendap.
(Hari Tri Wasono/Sindo/uky)