Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Ada Apa Denganmu PDIP?

Dede Suryana , Jurnalis-Senin, 11 Mei 2009 |15:35 WIB
Ada Apa Denganmu PDIP?
A
A
A

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), sang scudeto di Pemilu 1999 dan runer up di musim 2004, harus terpuruk pada pemilu kurun ketiga sejak digulirkannya reformasi, 9 April lalu. Partai besutan puteri proklamator RI Bung Karno ini hanya mendapat 14 persen lebih suara, terpaut dibawah Partai Demokrat dan Partai Golkar.

Yang aneh, partai berlogo banteng gemuk itu terlihat santai menjelang pemilihan presiden langsung digelar. PDIP pede dengan mengusung ketua umumnya Megawati, sekaligus harapan dukungan besar dari partai-partai menengah, melalui ikatan koalisi besar.

Seperti diketahui, PDIP berusaha merangkul partner pemerintah yang sakit hati, Partai Golkar, untuk bahu membahu membendung kekuatan incumbent. Empat partai menengah lain, PPP, PAN, Hanura, dan Gerindra, turut dibujuk untuk membuat "pagar betis"  menghadang kesaktian Partai Demokrat dan sekutunya.

Sejumlah pengamat, memberi acungan jempol untuk rencana koalisi ini. Terlepas dari kemungkinan terburuk, banyaknya figur parpol yang ngotot meminta jatah RI 1. Sementara PDIP seakan tak mungkin tergoyahkan tetap mencalonkan Megawati sebagai capresnya.

Prediksi itu pun menjadi kenyataan. Prabowo Subianto keukeuh ingin menjadi Soekarno kecil-seperti permintaan mantan politisi PDIP yang menjadi penasihatnya,  Permadi-di Pilpres 8 Juli yang akan datang. Mantan petinggi militer orde baru itu, bahkan meradang saat PDIP mengulur-ulur waktu soal pengumuman cawapresnya.

Tak lama berselang, wacana Prabowo-Puan Maharani menggelinding, menindih kekuatan opsi capres Megawati, meskipun hal tersebut disangkal mentah-mentah elite PDIP. Si moncong putih, disinyalir pasrah "menjual" kekuatan partai sekaligus syarat dukungan capres 14 persen suara yang sudah dikantonginya, untuk menutupi modal kampanye sekaligus masa depan financial partai.

Yang mengejutkan, usai rumor Prabowo-Puan santer diperbincangkan, partai oposisi ini justru dikabarkan merapat ke partai pemerintah. Sulit mencari alasan lain selain pragmatisme, melihat indikasi pendekatan dan komunikasi politik kedua partai, yang sebelumnya selalu "bertikai".

Dewan Penasihat Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengakui, bahwa partainya kini tengah intensif menjalin komunikasi dengan PDIP. Walaupun ungkapan itu dipoles dengan pernyataan, komunikasi itu dilakukan pula dengan partai lain, seperti PKB, PBB, PAN, PPP, PKS. Komunikasi pada mengarah pada terbangunnya koalisi.

Ada apa sesungguhnya dengan PDIP? Semua kepala masih tergeleng-geleng keheranan. Partai yang selama lima tahun menjadi oposan, tiba-tiba mengetuk pintu musuhnya sendiri sambil mengibarkan bendera putih.

Semua orang tidak mengetahui pasti apa target sesungguhnya yang ingin dicapai oposisi dengan sikap kontroversialnya. Opini yang berkembang, sudah tentu beberapa potong kekuasaan. PDIP seolah-oleh melupakan umpatan dan cacian pengikut setia mereka dengan bergabungnya dua kubu berseberangan ini.

Akankah dewi fortuna berpihak ke PDIP? Bagaimana kira-kira reaksi kader-kader fanatik PDIP di Pemilu Presiden mendatang? Kita tunggu saja.

(Dede Suryana)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement