BANDUNG - Jarum jam menunjukkan pukul 17.40 WIB. Namun tak ada persiapan buka puasa yang istimewa di rumah pasangan Yana (49) dan Eni (48), orangtua dari Fitriyanti yang hilang tiga tahun lalu.
Azan maghrib pun berkumandang. Eni dan anak bungsunya, Aziz Saefullah (13) membuka pintu kulkas dan mengambil minuman kemasan aroma teh. Seusai membaca doa buka puasa, mereka berdua meminum minuman kemasan itu dan mengambil air wudlu yang hanya ditempuh dengan beberapa langkah kaki dari meja makan.
Dengan khusu mereka menjalankan ibadah salat maghrib. Seusai salam, ibu dan anak itu mengambil piring untuk menyantap hidangan seadanya yang disimpan di atas meja makan. Berbeda dengan kebiasaan orang Indonesia, tak ada kolak di atas meja tersebut.
"Semenjak Fitri hilang, tak ada lagi kolak ataupun makanan berbahan dasar ikan," ujar Eni. Dua makanan itu merupakan favorit Fitri.
Biasanya, beberapa jam sebelum buka puasa, Fitri bertanya apakah ada kolak. Jika tidak ada, maka dia akan berinisiatif untuk membuat kolak. Bahkan kolak seperti sudah menjadi hak veto Fitri. Selama anak kedua dari tiga bersaudara ini ada di rumah, maka hidangan kolak selalu tersedia di atas meja.
Sepeninggalnya Fitri, bulan Ramadan selalu sepi kolak. Jika ada kiriman dari tetangga, baru kolak tersedia. Apalagi sekarang yang buka puasa di rumah itu hanya tinggal dua orang, yakni Eni dan Aziz. Suami dan anak terbesarnya baru bisa pulang malam dari tempat kerjanya.
Jika Eni masih menolerir kolak ada di rumahnya, lain halnya dengan ikan. Dia sudah tidak mau memasak, membeli bahkan menerima makanan dalam bentuk ikan. "Kalau melihat ikan, saya teringat Fitri dan selalu menangis. Saya khawatir di luaran sana ia tidak punya uang, tidak bisa makan, pokoknya saya khawatir dia hidup susah," tutur Eni sambil mengusap air yang menetes dari matanya.
Akhirnya Eni berhenti memasak ikan, daripada dia tidak bisa melanjutkan makan. Fitri, sambung dia, identik dengan makanan tersebut. Anaknya itu selalu makan lahap bahkan bisa nambah beberapa kali. Padahal ikan tersebut tidak diolah dengan bumbu khusus. Ikan hanya digoreng biasa.
Eni sangat kehilangan Fitri. Bagaimana tidak, sebagai anak perempuan satu-satunya, Fitri menjadi teman curhat Eni. Apapun, dia ceritakan pada Fitri, begitupun sebaliknya. Fitri juga yang membantunya mengurus rumah, karena semua anggota keluarga laki-laki.
Biasanya, mereka berdua bangun ketika azan subuh berkumandang. Setelah salat subuh, mereka membereskan rumah dan menyiapkan sarapan. Sepulangnya sekolah, mereka selalu mengobrol dan menghabiskan waktu bersama. Bahkan setelah Fitri bekerja sebagai guru di TK Al-Mualim yang tak jauh dari kediamannya, mereka selalu saling curhat.
Tak hanya Eni yang tersiksa ketika Eni tak ada. Suaminya, Yana merasakan hal yang sama. Pekerjaannya sebagai sopir bus Damri, membuatnya banyak bertemu orang termasuk mahasiswi. Terkadang, Yana bertemu dengan mahasiswa yang perawakan maupun mukanya mirip Fitri.
"Kalau bapak abis ketemu orang yang mirip Fitri, dia selalu bercerita dengan semangat," tutur Eni.
Ruang tamu yang bergabung dengan ruang makan dan ruang keluargapun menjadi heboh dengan cerita kenangan Fitri. Di tahun pertama, ketika kisah Fitri mengemuka, dia akan sedih dan menangis, namun kini sudah terbiasa dan menghibur diri dengan tersenyum.
Namun, senyuman itu terkadang hanya bisa keluar di depan orang lain. Ketika ia ke belakang untuk mengambil minuman atau ketika sendirian, air mata tak bisa dibendung. Eni selalu teringat bagaimana Fitri tumbuh dalam janin di perutnya, lahir dan tumbuh jadi gadis yang cantik dan mungil.
Kehilangan sangat dirasakan pula oleh Aziz. Aziz sering mengalami masalah dengan tugas-tugas sekolahnya. Ketika ada Fitri, maka dialah yang membantu dan menjelaskan semua tugasnya. Kini, setelah Fitri tak ada, Aziz terpaksa harus mengerjakan semuanya seorang diri.
"Di antara ketiga anak saya, Fitri yang paling pintar. Makanya ketika ia ingin sekali kuliah, kami sekeluarga berjuang agar keinginan Fitri terkabul," cetus dia.
Sebagai orangtua, Eni dan Yana sangat terpukul. Di Ramadan ini ia hanya berharap Fitri selalu ada dalam lindungan Allah SWT.
"Dia perempuan yang baik hati dan salehah, mudah-mudahan di luaran sana banyak orang yang sayang sehingga dia tak kekurangan suatu apapun," pungkasnya.
(TB Ardi Januar)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.