MEKKAH - Minimnya ventilasi udara dan toilet membuat 182 jamaah asal Lebak Banten memaksa pindah ke pemondokan nomer 816 di wilayah Bakhutmah. Seharusnya kloter 11 embarkasi Jakarta ini menempati pemondokan nomer 817 di wilayah Bakhutmah.
Setibanya di Mekkah Senin 9 November lalu, rombongan yang berjumlah 455 ini terbagi menjadi dua pemondokan. Sebanyak 273 jamaah ditempatkan di pemondokan nomer 816 sedangkan 182 jamaah di 817 yang lokasinya hanya berjarak 10 meter.
"Lokasi pemondokan 817 kurang sehat untuk ditempati karena bersebelahan dengan tempat pembuangan sampah sehingga banyak lalat. Dan kami sepakat untuk pindah ke tempat yang lebih layak," tandas Mumu Khairul Mukti selaku ketua rombongan kloter 11 embarkasi Jakarta, Rabu (11/11/2009).
Setelah sempat menghuni selama satu malam, dia bersama jamaah lain mengajukan keberatan dan pemindahan lokasi pemondokan pada Selasa 10 November pagi kepada Panitia Penyenggara Ibadah Haji (PPHI) melalui kepala sektor 8.
"Yang menjadi pertanyaan kenapa rombongan kami harus terpisah dengan fasilitas pemondokan yang jauh berbeda. Padahal kami memenuhi kewajiban yang sama. Kesenjangan ini membuat kami juga tidak nyaman," jelasnya.
Alhasil, setelah melapor secara prosedural mereka bisa menempati pemondokan di 816 pada sore harinya dengan kondisi bangunan dan fasiitas yang lebih baik dari sebelumnya. Fasilitas kamar rata-rata dihuni 6 orang dengan 1 kamar mandi dengan fasilitas tempat tidur springbed.
"Kalau pemondokan sebelumnya di 817 satu kamar mandi untuk 25 orang dengan kasur yang kurang layak. Seharusnya setiap pemondokan jamaah yang disediakan seperti di 816 supaya tidak menimbulkan masalah," tandasnya.
Hal yang sama diakui Nurul Isnaini jamaah yang juga keberatan ditempatkan dipemondokan 817. Dia merasa tidak nyaman karena masalah kebersihan yang tidak terjaga sehingga dikhawatirkan dapat menimbulkan penyakit bagi penghuninya.
"Kapasitas perbandingan jamaah dengan kamar mandi sangat tidak layak. Untuk satu kamar yang rata-rata dihuni 8 orang hanya disediakan satu kamar mandi. Kalau disini (816) fasilitasnya setara dengan hotel," ungkapnya.
Wakil Kepala Daerah Kerja Mekkah Bidang Pengawasan Perumahan H Shihabuddin Latief mengatakan, masalah lokasi pemondokan jamaah sebenarnya sudah dilakukan konfigurasi yaitu penghitungan antara jumlah penghuni dengan fasilitas kamar yang disediakan.
"Setiap pemondokan yang akan diisi oleh para jamaah sudah dilakukan konfigurasi supaya semuanya tersisi penuh dan tidak terjadi kekosongan. Karena itu terjadi pemisahan yang dialami jamaah asal Lebak Banten dan sebenarnya tidak dapat dilakukan perubahan," jelasnya.
Shihabuddin mengakui, fasilitas yang terdapat di pemondokan 816 memang lebih baik dibandingkan 817 karena memiliki lobby dan lift yang luas sehingga jamaah merasa lebih nyaman. Adapun fasilitas yang dikeluhkan tidak semuanya terbukti setelah dilakukan pengecekan ulang bersama jamaah.
"Karena mereka terus memaksa dan kebetulan jamaah yang seharusnya menempati lokasi tersebut belum datang, maka dilakukan pemindahan. Akibatnya kami melakukan konfigurasi ulang lagi supaya tidak terjadi kekosongan di salah satu pemondokan," tandasnya.
Sementara itu, Kepala Sektor 8 H Ahmad Danial Hafidz menyatakan kondisi pemondokan 817 layak untuk huni karena sudah dipersiapkan jauh hari sebelum kedatangan jamaah. Dia menegaskan, fasilitas kamar seperti pendingin udara dan kamar mandi sudah sesuai dengan kebutuhan.
"Mungkin karena letaknya terpisah dan fasilitas yang sedikit berbeda membuat para jamaah ingin ditempatkan dalam satu lokasi. Sebenarnya tidak ada masalah mengenai fasilitas yang sudah disediakan untuk jamaah," tuturnya.
Mengenai minimnya air dan perbandingan kamar mandi untuk jamaah, menurutnya sudah sesuai dengan ketentuan. "Berdasarkan peraturan 1 kamar mandi maksimal berbanding 15 orang. Sedangkan yang disediakan di pemondokan 817, satu kamar mandi perbandingannya untuk 10 orang. Jadi sangat layak untuk ditempati," katanya.(Boy Iskandar/Koran SI/hri)
Silahkan kirim komentar Anda. Kami berhak menghapus komentar apabila diperlukan