getting time...

Dianiya Guru, Siswa MAN Dirawat di RS

Selasa, 15 Desember 2009 23:17 wib

PAMEKASAN - Potret kekerasan di dunia pendidikan kembali terjadi. Kali ini menimpa Tomy Affandi, siswa MAN 1 Pamekasan, Madura, yang mengaku dianiaya oleh gurunya, Selasa (15/12/2009).

Kini, korban yang masih duduk di bangku kelas XI itu tergolek lemas di Rumah Sakit Daerah (RSD) Pamekasan.

Saat ditemui beberapa wartawan, korban mengaku dianiaya oleh guru mata pelajaran Alquran Hadis, Khairun Nisak. Tomy menerangkan, dia dipukul pada bagian belakang kepala sebelah kiri oleh sang guru.

Akibatnya, korban mengalami memar tepat di bagian belakang telinga kiri. Khawatir terjadi hal yang hal-hal yang tidak diinginkan, keluarga korban kemudian membawanya ke rumah sakit, dan disarankan untuk opname di Paviliun Melati V.

"Penyebabnya apa, saya juga tidak tahu. Cuma dapat kabar karena gara-gara bolos, akhirnya ditempeleng hingga seperti ini," ujar Tomy, sambil terbaring lemas di ruang Pavilium Melati V, RSD Pamekasan.

Tomy menceritakan, kronologis kejadian berawal saat dia dipanggil oleh salah satu guru Bimbingan dan Konseling (BK), yang bernama Tini. Saat berada di ruang BK, dia ditanya kenapa Senin lalu lalu tidak masuk sekolah tanpa ada pemberitahuan.

Nah, disela-sela proses tanya jawab dengan guru BK tersebut, tiba-tiba datang Khairun Nisak, guru mata pelajaran Alquran dan Hadis. Tomy sendiri kaget saat datang, yang bersangkutan langsung menghampiri dan melayangkan pukulan hingga mengenai bagian kepalanya. "Saya langsung ditempeleng dari belakang, tanpa alasan yang jelas. Akibatnya, seketika itu pula kepala saya pusing," terangnya.

Tomy sendiri awalnya tidak mempersoalkan kasus itu. Berhubung setelah kejadian, bagian kepalanya terasa sakit, dia memilih melaporkan kejadian itu kepada kedua orangtuanya. "Hasilnya ya seperti ini. Saya disuruh opname, hingga kondisi kembali normal," tegasnya.

Sementara itu, orangtua korban, Abdullah Affandi (39), dengan tegas menyatakan tidak terima atas tindakan guru yang telah menempeleng anaknya. Dia menganggap tindakan tersebut berlebihan dan tidak mendidik, sehingga pantas untuk diproses melalui jalur hukum.

"Saya tidak terima. Ini bukan sifat mendidik, apalagi yang bersangkutan adalah guru. Kasus ini sudah saya laporkan ke polisi," katanya.

Terpisah, Kepala Sekolah MAN 1 Pamekasan Djufri, membantah telah terjadi pemukulan terhadap siswa. "Tidak ada. Tidak apa-apa," katanya singkat.
(Subairi/Koran SI/ded)

  • aria » 0 Tanggapan
    Tidak akan ada asap kalau tdk ada api.Sebaiknya utk kasus ini orangtua juga harus berani tegas kpd anaknya ttg penyebab terjadinya kasus ini. Pihak sekolah secara tdk langsung sdh mendapat mandat dari orangtua utk mendidik anak tapi pada saat ada kejadian spt ini hanya pihak guru yg di sorot sedangkan pihak siswa sendiri serasa dibenarkan/dimanja. Situasi ini beda sekali dgn sikap orangtua jaman dulu, saya pernah di pukul guru ngaji sampai biru dikaki saya karena tidak menyimak pada saat teman Al Qur'an. Pada saat saya mengadu ke orangtua ternyata orangtua saya malah memukuli saya. Dan sejak itu saya jera melakukan kesalahan itu lagi karena saya yakin tidak akan ada yg membela saya pada saat saya melakukan kesalahan.
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.