PEMALANG - Pos Pengamatan Gunung Api Slamet menutup sementara seluruh jalur pendakian menuju ke puncak gunung nomor dua tertinggi di Jawa Tengah selama pergantian Tahun Baru 2010.
Kebijakan ini ditempuh karena kondisi puncak gunung berketinggian sekira 3.480 meter di atas permukaan laut (dpl) itu dinilai masih belum aman untuk keselamatan para pendaki.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Slamet di Desa Gambuhan Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Sukedi mengatakan, larangan pendakian menuju ke puncak gunung itu sudah diberlakukan sejak Mei 2009 dan belum ada pencabutan hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Penutupan semua jalur pendakian itu karena hingga saat ini status gunung masih waspada dan kawah gunung masih mengeluarkan gas solfatara yang mengandung belerang. "Embusan gas solfatara ini bisa membuat orang pingsan," katanya, Minggu (27/12/2009).
Selain itu, lanjut dia, sejak beberapa pekan terakhir kondisi cuaca menuju puncak terus diselimuti kabut tebal akibat diguyur hujan. Kondisi ini membuat jarak pandang mata terbatas. Jalur pendakian lama juga banyak yang tertutup oleh semak tanaman hutan lindung karena lama tidak didaki.
Di sekitar puncak juga masih dipenuhi produk material letusan yang terjadi pada April 2009. "Material letusan berupa batu berukuran besar dan kecil sekitar 300 meter dari puncak ini dikhawatirkan sewaktu-waktu bisa longsor," jelasnya.
Sukedi menuturkan, jumlah pendaki yang biasanya mengajukan izin pendakian untuk merayakan pergantian tahun cukup banyak. Jumlahnya bisa mencapai ratusan orang. Namun jumlah ini masih kalah dibanding pada setiap peringatan HUT Kemerdekaan RI yang bisa mencapai ribuan orang.
Meski demikian, pihaknya menolak izin rekomendasi pendakian karena kondisi puncak gunung masih berbahaya. Selain itu, Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) di Bandung belum mengeluarkan rekomendasi dibukanya jalur pendakian.
(Kastolani/Koran SI/ram)