getting time...

Mujito Tak Bisa Kerja Gara-Gara Menemukan Arca

Selasa, 18 Mei 2010 08:08 wib
50-an arca peninggalan purbakala yang ditemukan di Dusun Sumberbuntung, Desa Kalipucung, Sanankulon, Blitar, Jawa Timur. Keberadaan arca ini justru meresahkan si penemu. (Foto: Koran SI/Solichan Arif)
50-an arca peninggalan purbakala yang ditemukan di Dusun Sumberbuntung, Desa Kalipucung, Sanankulon, Blitar, Jawa Timur. Keberadaan arca ini justru meresahkan si penemu. (Foto: Koran SI/Solichan Arif)

BLITAR- Sebanyak 50-an arca kuno ditemukan penggali tanah liat bahan batu bata di Dusun Sumberbuntung, Desa Kalipucung, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Arca yang belum diketahui masa pembuatannya itu sudah dievakuasi dari lokasi penemuan. Namun keberadaan arca justru membuat resah si pemilik lahan. Dia harus meninggalkan semua aktivitasnya bekerja hanya untuk menjaga arca. Berikut laporannya.

Baru tiga hari lamanya, Mujito, 50 memindahkan arca-arca kuno yang terbuat dari tanah liat itu di pelataran depan rumahnya. Total ada 50-an arca dengan tinggi rata-rata 50-70 cm. Patung patung kecil yang terukir dengan beraneka ragam rupa tersebut nyaris seluruhnya cacat. Kalau tidak rompal pada bagian perut, kaki atau tangan, juga hilang pada kepala.

Dari kedalaman tanah liat sekira 2 meter, oleh warga Dusun Sumberbuntung RT 02 RW 08, Desa Kalipucung, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar ini, semua dipungutnya. Ia kumpulkan bagian satu demi satu. Ia basuh dengan air, untuk menyingkirkan gumpalan tanah yang melekat di sana.

Tidak terkecuali, baik yang masih mendekati bentuk sempurna, maupun yang tinggal seperempat bagian, Mujito perlakukan sama. Bahkan, serpihan kecil yang tidak ketahui seperti apa wujud utuhnya, juga dihimpunya.  
Kemudian, secara sendirian ia usung benda-benda purbakala tersebut dengan jangka sorong yang ia alasi dengan kain tebal guna menghindari benturan satu sama lain. Sebagai orang desa yang tidak begitu paham mengenai masalah kepurbakalaan, bapak lima anak ini tidak ingin dipersalahkan.
 
Apalagi, kondisi arca yang ditemukan di pekarangan tanah miliknya tersebut, hampir satupun dalam kondisi sempurna. “Lima kali saya dorong dari pekarangan ke pelataran. Hati-hati saya lakukan itu. Karena saya takut kalau terjadi apa-apa disalahkan,” tuturnya di Blitar.
 
Lokasi penemuan benda-benda kuno ini berjarak sekira 50 meter dari tempat tinggal Mujito. Sebuah pekarangan terbuka seluas 1.064 meter persegi yang berbatasan dengan area persawahan. Sudah 2 tahun lamanya, Mujito menggunakan pekarangan miliknya tersebut sebagai tempat produksi batu bata merah. Karenanya, setiap hari ia bersama Sudarmi, istrinya, serta Hasyim, adiknya berada di sana.
 
Pagi itu, Hasyim (40), tengah menggali tanah untuk mempersiapkan adonan bahan batu bata. Tanpa sengaja,cangkul yang bekerja di kedalaman 2 meter menyentuh sesuatu yang keras. Dengan tangan, Hasyim menguak gundukan tanah yang membentur ujung cangkulnya. “Yang pertama terlihat saat itu bagian kepala. Oleh adik saya dipungut dan ditaruh di pinggir galian,” kenangnya.
 
Baik Mujito maupun Hasyim kala itu tidak tahu bahwa arca terbuat dari tanah yang ditemukanya merupakan peninggalan purbakala. Keduanya memang sempat membasuh arca-arca kuno itu. Namun kegiatan tersebut hanya untuk mengetahui satu persatu rupa patung. Setelah itu, semuanya (arca) digeletakkan begitu saja di pekarangan terbuka. “Awalnya kami kira arca ini hanya mainan buatan orang yang terpendam,” terang Mujito.
 
Penemuan 50 arca tersebut tidak berlangsung sekaligus. Meski demikian semuanya ditemukan pada titik yang sama. Bahkan di lokasi yang sama juga terdapat sebuah batu berbentuk persegi empat dengan lubang di tengah yang diduga sebagai Yoni. Yoni ini ditemukan lebih dulu jauh hari sebelum penemuan arca. Hanya saja tidak ada yang berani memindah Yoni ini. “Karenanya dibiarkan di sana,” papar Mujito.
 
Tidak tahu siapa yang melaporkan, sejumlah petugas yang mengaku dari dinas purbakala Trowulan Mojokerto ditemani perangkat desa dan kecamatan Sanankulon mendatangi pekaranganya. Selain melihat-lihat lokasi penemuan, para petugas juga memutuskan perlu adanya pengamanan semua arca dari rengkuhan tangan tak bertanggungjawab.
 
Mujito pun bersusah payah memindahkan semua arca itu di pelataran rumahnya. Sebuah pagar dari bambu yang satu sama lain dihubungkan tali rafia didirikan Mujito untuk melindungi arca-arca itu. Mulai pagi hingga malam Mujito seorang diri melakukan pengawasan. Sebab pengunjung yang datang terus mengalir tiada henti.
 
Bahkan, saking takutnya akan ada yang mencuri, Mujito sudah tiga hari ini tidur di emperan teras rumahnya. “Itupun saya tak berani tidur pulas. Kalau sudah adzan subuh baru berani masuk rumah. Namun tetap melakukan pengawasan dari balik kaca,” katanya.
 
Mujito mengaku justru merasa repot dengan keberadaan benda purbakala di rumahnya. Sebab, sejak itu dirinya tidak bisa lagi bekerja seperti sebelumnya. Selain melakukan pengawasan, Mujito harus melayani para pengunjung yang berkunjung ke rumahnya. Saya berharap semua arca ini segera dibawa ke trowulan. Sebab petugas yang bernama pak Danang dari BP3 Trowulan berjanji akan segera menindaklanjuti. “Namun sampai sekarang kok tidak ada kelanjutanya,” keluhnya.
 
Sementara itu Arkeolog BP3 Trowulan Mojokerto Danang Wahyu Utomo ketika dicoba dihubungi melalui ponselnya tidak diangkat. Sementara Plh Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Blitar A Basuki Wibowo mengatakan jika penemuan benda purbakala ini sudah diserahkan sepenuhnya kepada BP3 Trowulan Mojokerto. “Dalam hal ini pemkab hanya bersifat membantu. Jadi solusinya kita memang menunggu tindakan lebih lanjut dari BP3,” ujarnya.

(Solichan Arif/Koran SI/ful)