Menelusuri Kehidupan Seks Kaum Neanderthal, Apakah Manusia Purba Berciuman?

Agregasi BBC Indonesia, · Selasa 26 Januari 2021 00:36 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 26 18 2350717 menelusuri-kehidupan-seks-kaum-neanderthal-apa-manusia-purba-berciuman-MYhgJ76c8a.jpg Rekonstruksi wajah perempuan Neanderthal (Foto: Getty Images)

PARA ilmuwan mengetahui beberapa hal yang mengejutkan dalam sejarah manusia ketika spesies kita berhubungan intim. Apakah manusia purba berciuman dan bagaimana organ seksual mereka?

Sepasang manusia purba bertemu di tengah terjalnya pegunungan di masa prasejarah Rumania. Pria itu adalah seorang Neanderthal. Dia hanya memakai sehelai jubah bulu. Tubuhnya tegap dan berkulit pucat, mungkin sedikit memerah karena terbakar sinar matahari. Pada salah satu bisepnya yang kekar dan berotot, dia memakai gelang terbuat dari cakar elang.

Sementara yang perempuan adalah manusia modern pada masa awal. Tubuhnya dibalut mantel dari bulu serigala, berkulit gelap, kaki panjang, dan rambut dikepang.

Sambil berdehem, pria itu memandang si perempuan dari atas ke bawah, kemudian menyapanya dengan suara sengau bernada tinggi. Namun si perempuan hanya menatapnya. Untungnya, mereka tidak berbicara bahasa yang sama, kemudian keduanya saling tertawa canggung. Kita semua bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya.

Baca Juga:  Tulang Anak Manusia Purba Ini Ditemukan Terkubur 41.000 Tahun Lalu

Tentu saja, kejadiannya tidak seperti adegan panas yang digambarkan dalam novel roman. Mungkin yang perempuannya lah yang sebenarnya Neanderthal dan yang laki-laki adalah manusia modern pada masa awal.

Neanderthal 

Mungkin juga hubungan mereka bukanlah hubungan yang romantis, lebih ke arah pragmatis, karena tidak banyak manusia di sekitar saat itu. Juga pernah disinyalir, bahwa hubungan mereka bukanlah berdasarkan suka sama suka.

Kita tidak pernah tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi dalam pertemuan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan di masa itu, namun yang bisa kita yakini adalah adanya hubungan seksual antara Neanderthal dan manusia modern awal.

Sekitar 37.000-42.000 tahun kemudian, tepatnya pada Februari 2002, dua penjelajah menemukan hal yang luar biasa di gua bawah tanah pegunungan Carpathian barat daya, dekat kota Anina, Rumania.

Untuk sampai ke gua itu bukanlah perjalanan yang mudah. Pertama, mereka mengarungi sungai bawah tanah, sedalam leher, sejauh 200 meter.

Baca Juga:  Tengkorak Manusia Purba Berusia 2 Juta Tahun Ditemukan di Gua Afrika

Kemudian melakukan penyelaman scuba sepanjang 30m di bawah air, diikuti pendakian 300 meter (984 kaki) ke poarta, atau "lubang tikus"— sebuah celah yang belum pernah mereka masuki sebelumnya.

Di dalam Peştera cu Oase, atau "Gua Tulang Belulang", mereka menemukan ribuan tulang mamalia.

Diperkirakan dalam waktu yang sangat lama gua tersebut ditinggali oleh sekelompok beruang gua jantan — kerabat dari beruang coklat yang telah punah — tempat sebagian besar dari mereka berasal.

Di antara tulang-tulang beruang, didapati sebuah tulang rahang manusia. Berdasarkan penanggalan radio karbon, tulang tersebut berasal dari salah satu manusia modern awal di Eropa.

Sisa-sisa jasad tersebut diperkirakan menjadi satu dengan tanah gua tersebut dan tidak pernah ada yang mengusiknya.

Pada saat itu, para ilmuwan memperhatikan bahwa, meskipun bentuk tulang rahang sudah lebih menyerupai manusia saat ini, namun ia juga mengandung beberapa ciri menyerupai Neanderthal.

Bertahun-tahun kemudian, penemuan tersebut terkonfirmasi.

Saat para ilmuwan menganalisis DNA yang diambil dari temuan tersebut pada 2015, mereka menemukan bahwa individu tersebut adalah seorang laki-laki, dan ada kemungkinan bahwa 6-9% DNA-nya berasal dari DNA Neanderthal.

Ini adalah konsentrasi DNA Neanderthal tertinggi yang pernah ditemukan pada manusia modern awal, dan sekitar tiga kali lipat dari jumlah yang ditemukan pada orang Eropa dan Asia saat ini, yang susunan genetiknya kira-kira 1-3% Neanderthal.

Karena genom yang ditemukan mengandung gen Neanderthal dalam rangkaian yang tidak terputus, para peneliti memperkirakan bahwa pemilik rahang tersebut kemungkinan besar memiliki nenek moyang Neanderthal empat hingga enam generasi yang lalu — setara dengan buyutnya buyut atau buyut dari kakek buyut.

Mereka menduga bahwa hubungan itu mungkin terjadi kurang dari 200 tahun sebelum dia hidup. Selain tulang rahang, tim menemukan pecahan tengkorak dari individu lain di Peştera cu Oase, yang memiliki kombinasi bentuk yang mirip.

Para ilmuwan belum dapat mengekstraksi DNA dari sisa-sisa tengkorak ini, tetapi seperti tulang rahang, diperkirakan bahwa itu adalah milik seseorang yang memiliki keturunan Neanderthal. Sejak penemuan itu, telah terjadi peningkatan pada bukti bahwa hubungan seks antara manusia modern awal dan Neanderthal bukanlah hal yang jarang terjadi.

Tersembunyi dalam genom populasi masa kini, ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa hal tersebut terjadi beberapa kali di wilayah geografis yang luas.

Sampai saat ini, ada orang yang membawa gen dari setidaknya dua populasi Neanderthal yang berbeda. Dan berdasarkan suatu analisis, terjadi beberapa kali perkawinan silang antara manusia modern awal dan Neanderthal di Eropa dan Asia.

Faktanya, DNA Neanderthal dapat ditemukan pada semua orang yang hidup saat ini, termasuk orang-orang keturunan Afrika, yang nenek moyangnya diperkirakan tidak pernah melakukan kontak langsung dengan kelompok ini.

Dan transfer DNA ini juga terjadi sebaliknya. Pada 2016, para ilmuwan menemukan bahwa Neanderthal dari pegunungan Altai di Siberia mungkin telah berbagi 1-7% genetika mereka dengan nenek moyang manusia modern awal, yang hidup sekitar 100.000 tahun yang lalu.

Yang terpenting, meskipun kita semua mengira sudah kehilangan jejak detil hubungan intim manusia pada zaman prasejarah, namun masih ditemukan adanya petunjuk tentang bagaimana keadaan mereka saat itu. Dan inilah semua yang akan Anda ketahui tentang episode menarik dalam sejarah manusia.

Berciuman

Pada 2017, Laura Weyrich — antropolog dari Universitas Pennsylvania — menemukan bekas manusia prasejarah yang sangat samar pada gigi berusia 48.000 tahun.

"Saya melihat mikroba purba sebagai cara untuk mempelajari lebih banyak tentang masa lalu, dan pengamatan pada gigi menjadi satu-satunya cara yang dapat diandalkan untuk merekonstruksi mikroorganisme yang hidup di dalam manusia purba," kata Weyrich.

Secara khusus dia sangat tertarik dengan apa yang dimakan Neanderthal dan bagaimana mereka berinteraksi dengan lingkungan. Untuk mengetahuinya, dia mengurutkan DNA dari plak pada gigi yang ditemukan di tiga gua berbeda.

Dua dari 13 sampel Neanderthal ditemukan di situs El Sidrón di barat laut Spanyol.

Di situs tersebut telah ditemukan banyak hal yang mengejutkan. Banyak dari individu-individu ini menderita kelainan bawaan, seperti tempurung lutut dan tulang belakang yang berbentuk janggal, dan gigi bayi yang tetap ada meskipun sudah melampaui masa kanak-kanak.

Kelompok tersebut diduga merupakan campuran dari kerabat dekat, yang mempunyai kumpulan gen resesif akibat sejarah panjang perkawinan sedarah.

Akhir dari keluarga ini menyedihkan — pada tulang mereka didapati tanda-tanda bahwa mereka korban kanibalisme. Mereka diperkirakan termasuk di antara Neanderthal terakhir yang berjalan di bumi.

Yang mengejutkan bagi Weyrich, salah satu gigi di El Sidrón mengandung tanda genetik dari mikro organisme menyerupai bakteri Methanobrevibacter oralis, yang masih ditemukan di mulut kita hingga hari ini.

Dengan membandingkan versi Neanderthal dengan versi manusia modern, dia dapat memperkirakan bahwa keduanya telah terpisah sekitar 120.000 tahun yang lalu.

Jika Neanderthal dan manusia masa kini selalu punya bakteri yang sama di dalam mulut, diperkirakan ini terjadi jauh lebih awal — setidaknya 450.000 tahun yang lalu, ketika dua subspesies mengambil jalur yang berbeda. "Artinya, mikroorganisme telah berpindah sejak saat itu." kata Weyrich.

Tidak mungkin untuk mengetahui secara pasti bagaimana ini terjadi, tetapi ini bisa dikaitkan dengan hal lain yang terjadi 120.000 tahun yang lalu. "Bagi saya, yang menarik adalah ini merupakan salah satu penemuan awal kami saat mendeskripsikan kawin silang antara manusia dan Neanderthal," kata Weyrich.

"Jadi, sungguh luar biasa melihat mikroba yang turut serta dalam interaksi tersebut." Weyrich menjelaskan bahwa cara yang paling memungkinkan terjadinya transfer mikroba tersebut, adalah melalui berciuman.

"Saat Anda mencium seseorang, mikroba mulut akan bertukar di antara mulut," katanya.

"Ini bisa saja terjadi satu kali tetapi kemudian entah bagaimana menyebar. Tapi itu juga bisa terjadi secara berkala."

Cara lain untuk mentransfer mikroba mulut adalah dengan berbagi makanan. Dan meskipun tidak ada bukti langsung bahwa Neanderthal menyiapkan makanan untuk manusia modern awal, namun berbagi makanan bersama secara romantis bisa menjadi sumber alternatif perpindahan Methanobrevibacter oralis (M. oralis).

Bagi Weyrich, penemuan ini menarik karena ini menunjukkan bahwa interaksi kita dengan jenis manusia lain dahulu kala telah membentuk komunitas mikroorganisme yang masih kita bawa hingga saat ini.

Ini menimbulkan pertanyaan bagi Weyrich: "Apakah mikrobioma kita bekerja dengan benar karena kita mengambil mikro organisme dari Neanderthal?"

Misalnya, meskipun M. oralis cenderung dikaitkan dengan penyakit gusi pada manusia modern, Weyrich mengatakan bahwa M. oralis telah ditemukan pada banyak individu prasejarah yang memiliki gigi yang sangat sehat.

Di masa depan, dia membayangkan menggunakan wawasan yang diperoleh dari plak gigi kuno untuk merekonstruksi mikrobioma mulut yang lebih sehat bagi orang-orang yang hidup di dunia modern.

Neanderthal laki-laki atau perempuan

Sulit untuk mengatakan dengan pasti apakah Neanderthal perempuan yang banyak berpasangan dengan laki-laki manusia modern awal, atau sebaliknya — tetapi ada beberapa petunjuk.

Pada 2008, para arkeolog menemukan tulang jari yang patah dan satu gigi geraham di Gua Denisova di Pegunungan Altai Rusia, tempat sub spesies baru manusia terungkap.

Selama bertahun-tahun, "Denisovan" diketahui hanya dari segelintir sampel yang telah digali di situs ini, bersama dengan DNA mereka. Dari temuan itu para ilmuwan menemukan bahwa warisan mereka berlanjut hingga hari ini dalam genom orang-orang Asia Timur dan keturunan Melanesia.

Denisovan jauh lebih dekat hubungannya dengan Neanderthal daripada manusia masa kini; kedua sub spesies tersebut mungkin memiliki wilayah jelajah yang tumpang tindih di Asia selama ratusan ribu tahun.

Ini menjadi sangat jelas pada 2018, melalui penemuan pecahan tulang milik seorang gadis muda — dijuluki Denny — yang memiliki ibu Neanderthal dan ayah Denisovan.

Akibatnya, masuk akal jika kromosom seks pria Neanderthal terlihat mirip dengan Denisovan.

Tetapi ketika para ilmuwan mengurutkan DNA dari tiga Neanderthal, yang hidup 38.000-53.000 tahun yang lalu, mereka terkejut menemukan bahwa kromosom Y mereka punya lebih banyak kesamaan dengan manusia saat ini.

Para peneliti mengatakan ini adalah bukti "aliran gen yang kuat" antara Neanderthal dan manusia modern awal — mereka cukup sering kawin.

Sedemikian seringnya, sehingga saat jumlah Neanderthal menyusut menjelang akhir keberadaannya, kromosom Y mereka mungkin telah punah, dan digantikan seluruhnya dengan milik kita.

Hal ini menunjukkan bahwa sejumlah besar leluhur manusia laki-laki berhubungan seks dengan Neanderthal perempuan.

Tapi ceritanya tidak berakhir di situ. Penelitian lain menunjukkan bahwa nasib yang hampir persis sama menimpa mitokondria Neanderthal — mesin seluler yang membantu mengubah gula menjadi energi yang dapat digunakan — secara eksklusif diturunkan dari ibu kepada anak-anaknya.

Jadi ketika mitokondria manusia modern awal ditemukan pada sisa-sisa jasad Neanderthal pada 2017, itu mengisyaratkan bahwa nenek moyang kita juga berhubungan seks dengan Neanderthal jantan.

Kali ini, kawin silang kemungkinan besar terjadi antara 270.000 dan 100.000 tahun yang lalu, ketika manusia sebagian besar terkurung di Afrika.

Penyakit menular seksual

Beberapa tahun yang lalu, Ville Pimenoff sedang mempelajari penyakit menular seksual human papillomavirus (HPV), ketika dia melihat sesuatu yang aneh.

Virus papiloma ada di mana-mana di antara hewan, termasuk beruang, lumba-lumba, kura-kura, ular, dan burung — faktanya, virus ini ditemukan di hampir semua spesies yang telah dipelajari keberadaannya.

Di antara manusia saja, ada lebih dari 100 jenis galur yang beredar, yang secara kolektif bertanggung jawab atas 99,7% kanker serviks di seluruh dunia.

Dari jumlah tersebut, salah satu yang paling mematikan adalah HPV-16, yang mampu bertahan di dalam tubuh selama bertahun-tahun karena diam-diam merusak sel yang diinfeksinya.

Tetapi ada perbedaan yang jelas ditinjau dari tempat varian tertentu ditemukan.

Kemungkinan besar Anda akan menjumpai tipe A, sementara di sub-Sahara Afrika kebanyakan orang terinfeksi tipe B dan C.

Menariknya, polanya persis sama dengan penyebaran DNA Neanderthal di seluruh dunia - tidak hanya pada manusia di sub-Sahara Afrika yang membawa jenis HPV tidak umum, tetapi mereka juga membawa materi genetik Neanderthal relatif sedikit.

Untuk mengetahui apa yang sedang terjadi, Pimenoff menggunakan keragaman genetik di antara tipe A zaman sekarang untuk menghitung bahwa varian itu pertama kali muncul sekitar 60.000 hingga 120.000 tahun lalu.

Usia varian tersebut jauh lebih muda daripada jenis HPV-16 lainnya — dan yang terpenting, ini terjadi sekitar periode manusia modern awal muncul dari Afrika, dan melakukan kontak dengan Neanderthal.

Meskipun sulit untuk membuktikannya secara pasti, Pimenoff yakin mereka segera mulai bertukar penyakit menular seksual — dan bahwa perbedaan varian HPV-16 mencerminkan fakta bahwa manusia memperoleh tipe A dari antesendannya.

"Saya mengujinya ribuan kali menggunakan teknik komputasi, dan hasilnya selalu sama — ini adalah skenario yang paling masuk akal," kata Pimenoff.

Berdasarkan cara penyebaran virus HPV saat ini, ia menduga bahwa virus tersebut tidak hanya sekali ditularkan ke manusia, tetapi berulang kali dalam kesempatan berbeda.

"Sangat kecil kemungkinannya hal itu terjadi hanya sekali, karena ada kemungkinan besar bahwa penularan tidak akan bertahan lebih lanjut," kata Pimenoff.

"Hubungan seksual ini pasti agak khas di Eurasia, di daerah kedua populasi manusia ada saat itu."

Menariknya, Pimenoff juga percaya bahwa akuisisi tipe A dari Neanderthal menjelaskan mengapa itu sangat berbahaya pada manusia — karena manusia pertama kali menemukannya relatif baru-baru ini, sistem kekebalan kita belum berevolusi untuk dapat membersihkan infeksi.

Faktanya, berhubungan seks dengan Neanderthal mungkin menularkan berbagai virus ke manusia modern, termasuk kerabat kuno HIV. Tetapi tidak perlu merasa kesal terhadap kerabat kita yang telah lama punah, karena ada juga bukti bahwa kita juga menularkan penyakit seksual ke Neanderthal — termasuk herpes.

Organ seksual

Meskipun mungkin tampak kasar untuk bertanya-tanya seperti apa penis dan vagina Neanderthal, alat kelamin berbagai organisme telah menjadi subjek penelitian ilmiah yang sangat luas; pada saat penulisan artikel ini, pencarian kalimat "evolusi penis" di Google Scholar menghasilkan 98.000 artikel, sedangkan "evolusi vagina" menghasilkan 87.000.

Ternyata organ seksual hewan dapat mengungkapkan banyak hal mengejutkan tentang gaya hidup, strategi kawin, dan sejarah evolusi mereka — jadi keingintahuan tentang bagaimana organ seksual mereka hanyalah cara lain untuk memahaminya.

Kerajaan hewan berisi berbagai bentuk alat kelamin. Ini termasuk gurita argonaut yang penisnya berbentuk cacing dan dapat dilepas berenang sendirian untuk kawin dengan betina — fitur praktis yang diperkirakan telah berkembang karena ukuran jantan hanya sekitar 10% dari ukuran betina. Ada pula kanguru, yang punya tiga vagina sehingga betina bisa terus-menerus hamil.

Salah satu ciri penis manusia yang tidak biasa adalah bentuknya yang halus. Kerabat terdekat kita, simpanse biasa dan simpanse bonobo — yang memiliki sekitar 99% DNA kita — memiliki "tulang penis".

Tulang kecil ini, yang terbuat dari bahan yang sama dengan kulit dan rambut (keratin), diperkirakan telah berevolusi untuk membersihkan sperma jantan pesaing, atau membuat vagina betina lecet ringan sehingga membuatnya tidak bisa berhubungan seks lagi untuk sementara waktu.

Pada 2013 lalu, para ilmuwan menemukan kode genetik penis simpanse kurang memiliki genom Neanderthal dan Denisovan, seperti pada manusia modern. Hal ini menunjukkan bahwa itu telah menghilang dari nenek moyang serumpun kita setidaknya 800.000 tahun yang lalu.

Ini penting, karena tulang penis dianggap paling berguna pada spesies banyak pasangan, yang dapat membantu jantan bersaing dengan jantan lainnya dan memaksimalkan peluang untuk bereproduksi. Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa — seperti kita — Neanderthal dan Denisovan sebagian besar monogami.

Berhubungan seks

 

Namun, ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa Neanderthal memang lebih sering berhubungan seks daripada manusia modern.

Penelitian pada janin telah menunjukkan bahwa kehadiran androgen seperti testosteron di dalam rahim dapat memengaruhi "digit ratio" seseorang saat memasuki usia dewasa — ukuran perbandingan panjang jari telunjuk dan jari manis, dihitung dengan membagi telunjuk dengan jari manis

Dalam lingkungan testosteron tinggi, orang cenderung berakhir dengan rasio yang lebih rendah. Ini benar terlepas dari jenis kelamin biologis.

Sejak penemuan ini, keterkaitan antara digit ratio dan daya tarik wajah, orientasi seksual, pengambilan risiko, kinerja akademis, seberapa berempati wanita, seberapa dominan pria terlihat, dan bahkan ukuran testis mereka — meskipun beberapa penelitian di bidang ini masih kontroversial.

Pada 2010, tim ilmuwan juga memperhatikan pola pada kerabat terdekat manusia, simpanse, gorila, dan orangutan — yang umumnya punya lebih banyak pasangan. Hewan-hewan ini rata-rata memiliki perbandingan ruas jari yang lebih rendah, sementara manusia modern awal yang ditemukan di gua Israel dan manusia masa kini memiliki rasio yang lebih tinggi (masing-masing 0,935 dan 0,957).

Manusia secara umum bersifat monogami, jadi para peneliti menyarankan bahwa mungkin ada hubungan antara perbandingan ruas jari suatu spesies dan strategi seksual.

Jika mereka benar, Neanderthal — yang memiliki rasio di tengah kedua kelompok (0,928) — kurang monogami dibandingkan manusia modern awal dan manusia saat ini.

Menuju kepunahan

Begitu pasangan Neanderthal dan manusia-awal-modern telah bertemu, mereka mungkin menetap di dekat tempat tinggal pria itu, yang diikuti setiap generasi keturunan mereka.

Bukti genetik dari Neanderthal menunjukkan bahwa rumah tangga terdiri dari pria, pasangannya, dan anak-anak.

Perempuan sepertinya meninggalkan rumah keluarga mereka ketika mereka menemukan pasangan.

Wawasan lain tentang kisah bahagia selamanya antara manusia modern awal dan Neanderthal berasal dari studi tentang gen yang mereka tinggalkan pada orang Islandia saat ini.

Tahun lalu, analisis genom dari 27.566 individu tersebut mengungkap kecenderungan usia Neanderthal saat memiliki anak: perempuan Neanderthal biasanya lebih tua dari manusia modern awal yang merupakan pasangannya, sedangkan laki-laki pada umumnya menjadi ayah muda.

Jika pasangan manusia mempunyai bayi maka kemungkinan — seperti Neanderthal lainnya — si ibu akan menyusui bayi selama sekitar sembilan bulan dan menyapih mereka sekitar 14 bulan, lebih awal daripada manusia dalam masyarakat non-industri modern.

Keingintahuan tentang interaksi purba ini mengungkapkan informasi baru tentang bagaimana Neanderthal hidup secara umum — dan mengapa mereka punah.

Bahkan jika Anda tidak tertarik pada manusia purba, persatuan ini dianggap telah berkontribusi pada berbagai sifat yang dibawa manusia modern saat ini, mulai dari warna kulit, warna rambut dan tinggi badan hingga pola tidur, suasana hati, dan sistem kekebalan kita.

Mempelajari mereka sudah mengarah pada pengobatan potensial untuk penyakit modern, seperti obat-obatan yang menargetkan gen Neanderthal yang diduga berkontribusi pada kasus parah Covid-19,

Sekarang diperkirakan bahwa kepunahan Neanderthal kira-kira 40.000 tahun yang lalu mungkin sebagian didorong oleh daya tarik bersama, serta faktor-faktor seperti perubahan iklim mendadak dan perkawinan sedarah.

Satu teori yang muncul adalah bahwa penyakit yang dibawa oleh dua subspesies — seperti HPV dan herpes — awalnya membentuk penghalang tak terlihat, yang mencegah perluasan wilayah mereka dan juga untuk berbaur.

Di beberapa wilayah tempat mereka hidup berdampingan, keturunan campuran dan manusia modern awal memperoleh gen kekebalan yang berguna dan memungkinkan mereka untuk menjelajah lebih jauh.

Tetapi Neanderthal tidak terlalu beruntung — simulasi menunjukkan bahwa jika mereka memiliki beban penyakit yang lebih tinggi, mereka mungkin mengalami kerentanan terhadap galur baru dalam jangka panjang terlepas dari kawin silang — dan ini membuat mereka terjebak.

Akhirnya, nenek moyang manusia saat ini berhasil mencapai wilayah mereka, dan memusnahkan mereka.

Gagasan lainnya adalah bahwa kita secara bertahap menyerap populasi mereka yang relatif kecil ke dalam populasi manusia modern awal

Bagaimanapun, mereka telah mengadopsi sebagian besar kromosom Y dan mitokondria kita, dan setidaknya 20% dari DNA mereka masih ada pada manusia zaman sekarang.

Mungkin jejak pasangan yang hidup bersama di zaman prasejarah Rumania masih ada di dalam diri orang yang membaca artikel ini.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini