BOGOR - Pramoedya Ananta Toer, sastrawan kontroversi penerima beragam perhargaan serta nominator peraih nobel sastra. Meski perhargaan prestisius itu tak disandangnya sampai dia wafat, pada 30 April 2006 silam.
Aneka rintangan dan ganjalan menerpa eks tahanan politik pada era Orde Baru ini, tak terkecuali dari rekan-rekannya sesama sastrawan dan budayawan. Ini terbukti saat dia menerima hadiah Magsaysay dari Filipina pada 1995. Medali bergurat wajah presiden ketiga Filipina Ramon Magsaysay dan uang sejumlah USD50.000.
Sebanyak 26 sastrawan dan budayawan yang dipimpin Taufiq Ismail dan Muchtar Lubis memprotes penganugrahan penghargaan itu. Pramoedya dianggap memiliki banyak dosa politik sastra pada masa lalunya, yang dilupakan oleh Yayasan Ramon Magsaysay.
Pram dinilai lekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dilarang dan dibabat habis pada masa Orde Baru. Pram memang aktif di Lembaga Kebudayaan rakyat (Lekra) bersama sejumlah seniman pada masa itu. Lekra adalah organisasi sayap PKI, meski tidak diketahui secara jelas peran Lekra dalam perkembangan partai komunis itu di Indonesia.
Lantas benarkah Pram berhaluan kiri, seperti didalilkan rekan-rekan seprofesinya? Simaklah curahan hati Astuti Ananta Toer, puteri keempat Pram terkait tudingan itu.
Di mata keluarga keluarga, Pram tak pernah sama sekali terlibat dalam sebuah organisasi apapun, lantaran kehidupan Pram yang sangat individualis dan hampir tak pernah bergaul.
Kedekatannya dengan organisasi sayap PKI seperti Lekra atau PRD, menurut Astuti, sebatas sebagai tamu kehormatan dan sering kali diundang dalam berbagai acara.
“Tudingan komunis itu hal yang biasa selama hidup dia yang hanya seorang diri. Bapak tidak mengerti organisasi, dia bertetangga pun tidak. Bukan organisator, tidak bergaul, kita keluarga sudah mengerti siapa Pram. Dia itu sepanjang hari sendiri,” ujar Astuti saat okezone menemuinya di kediaman mendiang Pram di Jalan Warung Ulan 9, Bojonggede, Bogor, Jawa Barat, Selasa (15/06/2010).
Dalam kesendiriannya itu, Pramoedya menuliskan semuanya dalam buku harian yang kerap kali dicari bahkan dirampas oleh pemerintah yang berkuasa saat itu. Pram, kata Astuti, selalu menceritakan bagaimana negaranya maupun teman- temannya.
“Pada zaman Jepang, buku harian saat SD dicari-cari, kalau menulis buku harian bisa sampai 14 lembar sekali menulis. Tak hanya itu, karyanya “Nyanyi Sunyi” juga tidak ketemu, itu kan data otentik, dirampas, dan memang banyak buku-bukunya yang dirampas,” jelasnya.
Meski sebagian besar masa hidupnya dihabiskan di penjara karena dicap komunis, Pram tak pernah dendam ataupun marah.
“Pak Pram tidak pernah dendam. Dendam membawa Pram jadi beban, lebih baik dihilangkan, dianggap komunis, ditahan tanpa pengadilan, mana buktinya, dia minta pengacara dan jaksanya tunjukkan bukti, kalau tidak, mengapa mereka tahu. Berarti mereka lebih komunis dari saya (Pram), begitu kata Bapak,” tandasnya.
(Dede Suryana)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.