SUKABUMI - Jumlah bocah yang hidup dalam kerangkeng akibat autis di Kabupaten Sukabumi, bertambah menjadi tujuh orang. Mulai Kamis malam, tujuh bocah tersebut menjalani perawatan di RSUD Sekarwangi, Kecamatan Cibadak.
Sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi mencatat jumlah bocah autis sebanyak tiga orang. Mereka adalah Siti Nurhalimah Nelis (7), warga Kampung Citiyi, Desa Sindangraja, Kecamatan Curug Kembar; M Badrudin (10), warga Kampung Cikereteg RT 33/10 Desa Sindangraja, Kecamatan Curug Kembar; dan Ira (5), warga Kampung Singkur, Desa Cicukang, Kecamatan Purabaya.
Namun setelah dilakukan penelusuran oleh petugas Dinkes, ditemukan kembali empat bocah yang diduga autis., di antaranya M Iqbal (14), warga Kampung Sindangraja RT01/02, Desa Cicukang, Kecamatan Purabaya dan sepasang kakak beradik asal Kampung Puncak Tamil, Desa/Kecamatan Curug Kembar yaitu Siti Maryam (9) dan M Syamsul (16). Sedangkan seorang bocah autis lainnya belum diketahui identitasnya.
Menurut Kepala Puskesmas Curug Kembar Ai Nuraini, bertambahnya jumlah penderita autis ini berdasarkan hasil penelusuran petugas penyuluhan lapangan yang dilakukan sejak Kamis pagi.
“Bila melihat kondisi perekonomian serta faktor lainnya, kemungkinan jumlahnya akan terus bertambah,” kata Ai Nuraini, Kamis (15/7/2010).
Dia menyebutkan, dari tujuh bocah ini, empat di antaranya menjalani hidup dalam kerangkeng. Bahkan, salah satu dari mereka, ditempatkan di kandang ayam.
Ai menuturkan, banyaknya jumlah pendrita autis lebih disebabkan faktor gen. Hal ini dilandasi dari kasus yang ada, di mana tujuh bocah autis ini hampir seluruhnya memiliki hubungan persaudaraan.
“Dari dugaan sementara, enam orang menderita autis, sedangkan seorang lainnya yakni M Iqbal adalah suspect thalasemia atau penyakit kerusakan sel darah. Dalam kasus ini, kami hanya bertugas untuk merujuk mereka ke rumah sakit daerah. Selebihnya, penanganan diserahkan kepada tenaga medis spesialis,” ungkap Ai Nuraini.
Kepala Desa Cicukang, Ilham Anwari, menerangkan umumnya para penderita autis ini berasal dari keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan dengan tingkat wawasan akan kesehatan yang sangat rendah. Dia mengemukakan, langkah awal yang dilakukannya adalah berkoodinasi dengan pemerintah daerah melalui dinas kesehatan dan dinas sosial agar menaggung seluruh biaya pengobatan.
Sementara itu Isah, salah satu orangtua bocah autis, berharap putri pertamanya, Ira, dapat disembuhkan. Sehingga dia dan suaminya yang bekerja sebagai pedagang di Jakarta, tidak perlu lagi menempatkan Ira dalam ruang kerangkeng.
“Saya tidak punya uang untuk membeli obat, akhirnya terpaksa menempatkan di dalam ruang yang sempit, khawatir mengamuk dan melukai diri sendiri," ungkap Isah.
Sehari sebelumnya Ketua Komnas Perlindungan Anak Aries Merdeka Sirait mengunjungi kediaman Ira, Siti Nurhalimah Nulis, dan badrudin. Dalam kunjungannya, Ariest meminta keluarga membebaskan putra-putri mereka.
(Dian AF)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.