JAKARTA- Keinginan DPR RI membangun gedung baru untuk meningkatkan kinerja menuai kritik dari banyak kalangan. Lembaga Survei Indonesia menilai hal tersebut tidak akan berpengaruh terhadap kinerja para wakil rakyat.
"Terus terang alasan kinerja selalu dipakai untuk menjustifikasi setiap kenaikan fasilitas, gaji, dan lainnya. Dan ini sudah menjadi khas DPR," kata peneliti LSI Burhanuddin Muhtadi di kantor LSI, Jalan Lembang Terusan, Menteng, Jakarta, Kamis (2/9/2010) malam.
Menurutnya untuk efektifitas kerja dengan menghadiahi Rp 1,6 triliun rasanya terlalu dibuat-buat. Toh setiap tahunnya juga selalu ada peningkatan gaji dan fasilitas yang diterima DPR. “Tapi kinerjanya dari segi keaktifan, controling, budgeting, semuanya buruk," katanya.
Ia sempat menghitung saat ini saja penghasilan per anggota dewan rata-rata Rp700 sampai Rp 800 juta. "Jadi kalau menurut saya keterlaluan dan ini harus ada jaminan bahwa anggota DPR dapat meningkatkan kinerja dan mendengar aspirasi publik," pintanya.
Hal ini ironis mengingat anggaran untuk DPR naik drastis sementara anggaran untuk rakyat malah menurun. “Subsidi bencana alam kecil, untuk perbaikan rel kereta itu kecil, jadi banyak sekali alokasi dana untuk kepentingan rakyat banyak, menurun jauh lebih kecil dibandingkan dana fasilitas untuk anggota dewan," tegasnya.
(ful)