ABG Impikan ke Belanda Demi Seks Bebas

Ilustrasi

ABG Impikan ke Belanda Demi Seks Bebas
JAKARTA - Hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa lembaga penelitian terkait perilaku seks pra nikah yang semakin meningkat, tidak bisa dipungkiri.

Peningkatan ini harus direfleksikan secara mendasar. Kembali pada persoalaan penelitian tersebut, baik secara metodologi atau dari sisi lain memang tidak ada yang bisa mengingkarinya. Berapapun angka yang ditunjukkan dari hasil penelitian tersebut, itu merupakan realitas yang terjadi dalam kehidupan para remaja kita.

Menurut Nia Dinata, sineas yang yang kerap mengangkat tema perempuan, prilaku tersebut tidak bisa disalahkan. Meski dia tidak begitu tahu dan tidak pernah mendalami persoalan perilaku seks remaja pra nikah namun dia punya pengalaman pribadi yang terjadi dalam kehidupan rumah tangganya sendiri.

Ibu dua anak tersebut pun menceritakan perihal pengalamannya yang berkaitan dengan seks pra nikah di kalangan remaja. Suatu hari, anak lelakinya yang berumur 13 tahun dan sedang duduk dibangku kelas sembilan menanyakan hal terkait seks. Yakni kenapa adiknya baru lahir empat tahun kemudian.

“Mom, adik umur empat tahun. Selisih empat tahun dengan saya. So, apa yang mama lakukan selama empat tahun, apa mama tidak melakukan seks dengan papa?,” ungkap Nia meniru ucapan anaknya.

Nia pun mencoba menjelaskan dengan terus terang kepada anaknya yang bisa dibilang ABG (anak baru gede) itu. Sebab baginya pertanyaan itu harus dijawab dengan tepat untuk memberi pengetahuan tentang seks sejak dini. Dikatakan Nia, pengetahuan seks sangat penting bagi anak supaya tidak salah langkah dalam memahaminya.

“Mama dan Papa tiap hari butuh seks. Semua butuh seks termasuk kamu juga,” jawab dia.

Dia bersama suaminya pun menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana hubungan seks terjadi, hingga bertemunya sel telur perempuan dan sperma lelaki. Nia tak tanggung-tanggung ingin memberi penjelasan kepada anaknya.

Dari percakapan Nia dan anaknya, dia berpikir bahwa semua anak sebaya anaknya pasti juga ingin mengetahui persoalaan seks. “Lantas bagaimana caranya untuk memberi informasi yang benar? tuturnya. “Hal yang salah bila terus-menerus mengekang anak supaya tidak menanyakan hal semacam itu,” imbuhnya.

“Bahkan jika dikekang, seorang anak bisa melakukan suatu yang tidak bisa dikontrol oleh orang tua. Karena anak lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan, seperti teman dan lingkungan masyarakat sekitarnya,” tambahnya.

Hal yang lebih parah menurut Nia, ketika anaknya menyatakan keinginannya untuk menabung dan pergi ke Belanda supaya bisa menikmati seks yang legal. “Saya pernah tersentak ketika anakku bilang, Mom aku ingin nabung dan pergi ke Belanda menikmati seks. Karena di sana bebas dan legal,” sejenak ia pergi ke kamar mandi dan mengucurkan air mata karena anaknya bilang seperti itu. Dia mencoba bersikap tenang dan menanggapinya. “Kamu tahu dari siapa? Tanyanya. “Dari teman-teman di sekolah,” jawab anaknya.

Menghadapi semacam itu, Nia mengatakan remaja harus diberi arahan dan diberi pengetahuan tentang pendidikan seks. Bahkan menanggapi pernyataan anaknya sebagaimana disebut atas. Dia tak segan-segan memberi izin pada anaknya, dengan catatan, anaknya harus memiliki pengetahuan tentang pendidikan seks.

Di samping itu, dia menyatakan kepada anaknya, untuk melakukan seks tidak harus pergi jauh-jauh dari Indonesia. Silakan kamu lakukan di Tanah Air tapi kamu harus tahu tentang bagaimana penyakit menular, HIV/AIDS dan lain sebagainya.

“Silakan kamu melakukan itu dengan pacarmu tapi dengan syarat sama-sama mau. Tapi kamu tahu dulu tentang sex education. Tentunya, satu sama lain harus bisa bertanggung jawab atas perbuatannya,” katanya.

Kembali pada persoalan seks pra nikah di kalangan remaja yang semakin menjamur maka yang paling dibutuhkan sekarang adalah pendidikan seks yang sehat. Menjelaskan bagaimana tentang penyakit menular dan bahaya seperti HIV/AIDS.

“Hal yang paling penting adalah memberi pengetahuan tentang pendidikan seks sehat dan bahaya penyakit menular layaknya HIV AIDS,” kata dia.

Hal lain yang juga harus diperhatikan pemerintah adalah soal seberapa tinggi pengetahuan remaja tentang pendidikan seks dibandingkan negara lain. “Pemerintah seharusnya melakukan penelitian tentang peningkatan pengetahuan remaja mengenai pendidikan seks di negeri kita dibanding negara lain,” ujar sutradara film Berbagi Suami itu.

“Jika para remaja sudah paham betul tentang pendidikan seks maka dia bisa dipastikan mereka sudah bisa menjaga dirinya dari segala godaan. Dan dia juga tahu kapan ia harus melakukan seks,” pungkasnya.

Baca berita terkait isu seks bebas lainnya:
1. BKKBN: Separuh Remaja Jabodetabek Tak Perawan
2. Survei BKKBN Bisa Memancing Remaja Jabodetabek
3. Survei BKKBN Soal Perawan Bikin Panik Orangtua
4. 1.660 Mahasiswi di Yogyakarta Tak Perawan
5. Penasaran, Awal Remaja Terjerumus Seks Bebas
6. Keperawanan Tak Berkaitan dengan Moralitas Remaja
7. Kasus Seks Bebas Lebih Banyak di Pedesaan
8. BKKBN: ABG Tahu Proses Reproduksi Sebatas Seks


(lsi)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Pembantu yang Bunuh Balita Sempat Keluhkan Kenakalan Anak