Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Longsor di Sragen, 2 Jembatan Putus

Roso Prajoko , Jurnalis-Kamis, 06 Januari 2011 |20:15 WIB
Longsor di Sragen, 2 Jembatan Putus
Foto: Roso P/Global TV
A
A
A

SRAGEN - Dua jembatan di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, ambrol.  
Jembatan yang rusak tersebut, di antaranya penghubung Kampung Ngeluk- Kampung Gempolsari, Desa Tangkil, Sragen kota, Sragen. Praktis, kondisi itu membuat jembatan tidak dapat dilewati warga.
 
Rusaknya jembatan itu diduga akibat proses normalisasi Sungai Bengawan Solo. Akibat ambrolnya jembatan itu, hubungan warga antar Kecamatan Sragen dan Tangen terhambat untuk sementara atau mereka harus memutar sejauh 10 kilometer.
 
Salah satu warga kampung Ngeluk Darman (58), mengatakan, jembatan satu-satunya di wilayah tersebut putus sejak empat hari yang lalu, dan belum ada tanda-tanda akan diperbaiki.
 
“Agar tidak dilewati, warga spontan memasang bambu-bambu tak jauh dari jembatan sebagai penanda kalau jembatan rusak dan tidak dapat dilewati,” kata warga yang tinggal tak jauh dari jembatan itu, Kamis (6/1/2011).
 
Menurutnya, yang menjadi penyebab jembatan putus adalah proses pengerukan sungai Ngeluk yang terlalu dekat dengan jembatan.
 
“Kemungkinan karena pengerukan sungai yang terlalu mepet, Selain itu, jembatan juga tidak kuat menahan beban kendaraan-kendaraan proyek normalisasai yang lewat,” ujarnya.
 
Warga lainnya, Jono (62), mengungkapkan, jembatan tersebut baru kali ini putus sejak pertama kali dibangun pada tahun 1989 lalu. Pihaknya mengharapkan dinas terkait segera melakukan perbaikan jembatan. Hal ini karena akibat jembatan putus, aktivitas warga dua desa terganggu. “Warga kampung Gempolsari harus muter sejauh sekitar 10 kilometer jika akan menuju kampung Ngeluk atau sebaliknya,” katanya.
 
Sementara untuk mengantisipasi bencana longsor, imbuh Jumarin, pihak BBWBS akan dilakukan pemetaan lokasi penduduk di bantaran sungai yang rawan bahaya.
Sementara jembatan antara Desa Nganti (Gemolong) dan Karangtalun (Tanon) ambrol sepanjang hampir 2 meter. Ironisnya lagi, sedikitnya 0,5 meter jalan antarkecamatan tersebut telah tergerus.
 
Warga setempat Agus (30), mengungkapkan bahwa kerusakan jembatan yang merembet ke jalan sangat membahayakan. Pasalnya, lokasi yang ambrol tidak terlihat pada malam hari. Sehingga, jika pengemudi tidak awas, kendaraan yang melintas dapat terperosok.
“Ini sangat membahayakan. Kalau dibiarkan bisa bertambah parah,” ujar dia.
 
Kepala Desa (Kades) Nganti Ngaidi, menjelaskan jembatan antarkecamatan tersebut dibangun sejak 1983. Jembatan sepanjang hampir 12 meter itu terbentang di atas sungai yang alirannya berasal dari Bendung Kedungkancil, Kecamatan Miri.
 
Dia menjelaskan, ambrolnya jembatan terjadi sejak beberapa bulan terakhir. Hujan deras yang kerap terjadi membuat kerusakan di jembatan semakin parah dan merembat ke badan jalan, sehingga menyebabkan setengah meter jalan tergerus.
 
Tak hanya jalan, bagian penyangga jembatan juga tampak retak. Bagian penyangga itu kini telah menggantung satu meter di atas dasar sungai. Selain itu, talud di sisi kanan dan kiri aliran sungai tersebut juga telah ambrol.
 
Ngaidi menilai jika kondisi tersebut dibiarkan, kerusakan dipastikan akan melebar dan bisa memutus jalur alternatif utama antara Desa Nganti, Gemolong menuju Desa Karangtalun, Tanon dan Desa Jati, Sumberlawang.

(Lamtiur Kristin Natalia Malau)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement