BOJONEGORO - Penyebaran penyakit tuberkulosis (TBC) perlu diwaspadai. TBC berawal dari kuman dan cepat menyebar kepada siapa saja yang kondisinya tidak sehat.
Dalam sehari, pasien TBC yang masuk instalasi rawat jalan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Sosodoro Djatikoesoemo, Bojonegoro, mencapai 40 sampai 60 pasien.
“Dari jumlah itu, pasien TBC yang menjalani rawat inap sekitar empat sampai delapan orang,” ujar dr Budi Sutedja, dokter spesialis TBC di RSUD dr Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro.
Budi menuturkan, penyakit TBC ini bahaya tetapi tidak termasuk penyakit yang mematikan. Bahayanya, penyakit ini cepat dan mudah menular. Serta termasuk penyakit dalam yang menyerang paru-paru dan tulang. “Orang yang terkena TBC ini juga rawan terjangkit HIV,” ujarnya.
Meski begitu, penyakit yang berawal dari kuman ini dapat disembuhkan. Meski pasien harus komitmen mengikuti petunjuk dokter. Penderita TBC dapat sembuh bila berobat secara rutin baik rawat inap maupun rawat jalan sampai 6 bulan.
Dalam rentang 6 bulan itu, penderita harus tetap berobat meskipun mulai membaik. “Banyak yang tidak sembuh, karena berhenti di tengah jalan saat berobat,” ujar Budi seraya menambahkan sekira 98 persen penderita TBC bisa sembuh kalau berobat rutin hingga enam bulan tersebut.
TBC bermula dari kuman yang berasal dari dahak. Selanjutnya kuman menyerang seseorang yang memiliki kondisi kurang sehat.
Kendati tidak dapat merinci, penderita TBC di Bojonegoro bervariasi. Sejak 2009 sampai 2011, Budi mengaku penderita TBC terus naik, terutama 3 bulan di 2011 ini.
Sementara itu Humas RSUD dr Sosodoro Djatikoesoemo, Thomas Djaja mengungkapkan, pihaknya kekurangan dokter spesialis paru-paru. Saat ini hanya Budi Sutedja satu-satunya dokter di RSUD. “Padahal seharusnya RSUD tipe B setidaknya memiliki dua dokter spesialis paru,” tandasnya.
(Anton Suhartono)