JAKARTA - Pengamat politik Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi mengatakan, pernyataan bernada rasisme yang dilontarkan politisi Partai Golkar Bambang Soesatyo tidak pantas diletakkan dalam dunia politik.
Pasalnya, rasisme merupakan warisan kolonial Belanda yang tidak sepatutnya dipelihara.
"Ini adalah warisan Belanda yang oleh orde baru dilanggengkan melalui politik, rasisme lebih halus tapi dampaknya lebih kasar," kata Burhanuddin dalam sebuah diskusi di Jakarta, selasa (24/5/2011).
Menurutnya warga etnis tionghoa paling rentan dan mudah dijadikan kambing hitam. Rezim orde baru pun dinilai sama seperti Bambang yang mewarisi budaya kolonial tersebut.
Dia memaparkan, hanya 38 persen yang tidak memiliki paham rasis, dan 61 persen memiliki pandangan rasis terhadap kelompok tertentu. "Ini juga PR (pekerjaan rumah) untuk LSM, tokoh agama dan media massa bahwa ini ada masalah penting terkait rasisme," sambungnya.
Burhan menambahkan, rasisme bukan hanya sebuah problem pelik dalam level elit tapi juga di dalam kehidupan
sosial. "Rasisme tidak bisa hilang 100 persen, tapi paling tidak bisa menghilangkan," kata Burhan.
Lebih lanjut Burhan mengatakan, anggota dewan saat ini belum cukup bisa memberikan teladan dalam menetralisir rasisme. Media kata dia juga sejatinya bersuara keras menentang rasisme tersebut.
"Dari sisi lain beri apresiasi ke Bambang berarti dia kritis, soal pembelian MA 60 yang tidak beres aroma tidak sedap soal mark up, sebetulnya mungkin tujuanya ke arah sana jangan dibawa ke persoalan-persoalan lain yang bisa menjadi bumerang buat Bambang sendiri," jelasnya. (put)
(hri)