DENPASAR - Aksi perusakan dan penyerangan puluhan narapidana Lapas Kerobokan, Bali dilatarbelakangi solidaritas tingi diantara mereka setelah melihat petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) hendak melakukan sweeping narkoba dan menangkap seorang napi.
Saat membeberkan kronologis aksi brutal napi di penjara terbesar di Bali itu, Kepala Lapas Kelas II A Denpasar, (Lapas Kerobokan), Siswanto menegaskan, kerusuhan yang terjadi karena rasa solidaritas sesama napi.
"Ya mereka bersatu mungkin karena solidaritasnya sesama napi sudah terjalin cukup lama, terlebih setelah ada napi yang ditangkap, mereka marah dengan merusak berbagai fasilitas di Lapas," kata Siswanto saat jumpa pers di kantornya, Sabtu (25/6/2011) petang.
Dari pemeriksaan yang dilakukan pascaamuk napi, kata dia tercatat ada lima wisma yang rusak di jebol napi yang berada di blok H dan C. Kelima wisma itu masing-masing Edelwis, Cempaka, Kamboja, Kebana dan Kendang Harum.
Pada kesempatan sama, Kepala Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Provinsi Bali, Taswem Tarib membeber kronologis aksi penangkapan napi narkoba yang bernama Riyadi bukan Hariadi seperti info sebelumnya.
Awalnya, BNN melayangkan surat bernomor SP.KAP/qk/SPK/VI/2011, kepada Kalapas Kerobokan yang isinya tentang penangkapan napi Riyadi yang mantan anggota Densus 88 Polda Bali, karena diduga merupakan jaringan pengedar narkoba.
Kepada tim BNN yang dipimpin langsung Diputi Pemberantasan Narkoba BNN Brigjend Pol Benny Mamoto, Siswanto sempat menawarkan akan menjemput sendiri napi dimaksud. Namun hal itu ditolak BNN sehingga Siswanto akhirnya mendampingi BNN bersama-sama menuju Wisma Cempaka tempat Riyadi tinggal.
Saat sekira 15 petugas BNN yang berpakaian lengkap dengan senjata dan masker, sebagian napi melihat hal itu langsung kaget dan bersikap reakif. Ditambah lagi ada seorang petugas dari BNN yang membawa kamera sempat dikira ada wartawan datang meliput.
"Mereka langsung bereaksi, apalagi saat melihat Riyadi dibawa petugas BNN. Mereka marah dan menyerang petugas," kata Taswem. Dalam aksi itu, seorang yang membawa kamera handycam sempat dihajar napi.
Mengetahui situasi kian membahayakan, Tim BNN lari menyelamatkan diri bersama Riyanto yang tercatat pernah dinas di Polres Bandung ini.
Melihat situasi mencekam, Siswanto sempat mencoba menenangkan warga binaannya, namun dia justru menjadi korban. Mantan Kepala Lapas Anak Medan ini yang terus berusaha melerai dan menarik petugas HUmas BNN itu tak luput dari sasaran kekesalan napi, sehingga terluka pada bagian kepala dan tangan kananya.
Keributan itu akhirnya menyulut emosi warga binaan di wisma lainnya sehingga mereka terprovokasi melakukan aksi anarkis merusak sejumlah fasilitas seperti kantin, tempat ibadah dan ruang Kalapas.
Beruntung setelah Siswanto berhasil menyelamatkan diri dari amukan massa dan meminta bantuan kepolisian akhirnya yang akhirnya datang mengendalikan situasi hingga pukul 03.00 WITA. (put)
(Hariyanto Kurniawan)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.