tragedi sukhoi

Pimpinan DPRD Diduga Mesum Kecewa dengan Aksi WO

Jum'at, 26 Agustus 2011 04:01 wib
Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)
Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)

BELITUNG - Mahadir Basti, Wakil Ketua DPRD Belitung yang tertangkap berduaan di sebuah kamar Hotel Oasis, Jakarta, sepertinya tidak puas dengan sikap rekan-rekannya di DPRD Belitung yang melakukan aksi walk out (WO) dalam dialog dengan FKPS Kabupaten Belitung.

Bahkan Mahadir mengaggap Andi Saparudin Lanna yang memimpin pertemuan tidak pantas memeperlakukan dirinya saat mengajukan interupsi. Pasalnya ia menilai pembicaraan dalam rapat yang dinotulenkan itu sepihak karena kapasitas dirinya sebagai orang yang memiliki hak bicara, justru tidak diberi tahu dan tidak mendapat kesempatan berbicara dalam dialog tersebut.

"Kenapa orang yang berkapasitas bicara, yang mempunyai hak dan berada di DPRD. Kenapa saya tidak diberitahu, kenapa saya tidak dipanggil, kenapa saya tidak dikasih kesempatan. Baik kapasitas hak saya untuk berbicara, hak untuk klarifikasi, hak untuk mempertegas dan memperjelas ketidakpahaman masyarakat," kata Mahadir kepada wartawan, Kamis (25/8/2011).

Mahadir menganggap Forum Komunikasi Penyulu Sosial (FKPS)  tidak memahami sesungguhnya kasus yang menimpanya. FKPS seharusnya meminta penjelasan terkait kasus tersebut kepada dirinya. Ia juga mengimbau masyarakat yang ingin tahu mengenai kasus tersebut agar menanyakan langsung kepada dirinya.

"Ingat. Saya ingatkan barang siapa yang berbicara tidak didasari dengan fakta secara otentik secara jelas benar, yang berbicara tidak benar, berhak dituntut secara pidana maupun perdata," tegas Mahadir.

Ia menyayangkan sikap anggota DPRD yang keluar ruangan saat dirinya masuk ke dalam ruangan untuk menghadiri dialog dengan FKPS. Menurut dia, apa yang menimpanya karena suatu intimidasi dan intervensi terhadap istrinya, yang kemudian dibesar-besarkan dan menjadi komoditi politik dan konsumsi publik.

"Saya ingatkan juga kepada pimpinan DPRD dan anggota-anggota DPRD Kabupaten Belitung di luar saya. Ingat suatu kejahatan, tindak pidana atau kejahatan apapun yang membuat ketercelaan lembaga ini, banyak hal yang dibuat oleh oknum anggota dewan," kata Mahadir.

Lebih lanjut Mahadir menegaskan DPRD bukan lembaga tempat untuk mengadili, tempat untuk memvonis, tempat untuk mendeskriditkan individu atau perorangan. Selain itu, tidak mudah bagi seseorang dinyatakan bersalah, baik dari sisi hukum riil, hukum pemerintah, maupun riil sisi hukum agama.

"Kenapa tidak panggil saya diminta untuk menjelaskan? Panggil saya dong, kita akan jelaskan. Saya anggap pimpinan rapat tidak punya etika dalam memimpin rapat. Saya punya hak untuk berbicara. Saya punya hak untuk klarifikasi. Saya anggap tidak pantas seorang pimpinan rapat memperlakukan dalam rapat seperti itu," tandas Mahadir.
(Yudi Arianto/SUN TV/ful)

  • Heidi montago » 0 Tanggapan
    Mana ada maling kok jujur, kecap mana yg mau no 2. Itu lah karma dri perbuatan anda sndiri.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Nanang Bernadi AT » 0 Tanggapan
    Udah lah bang, ente udah gak pantas jadi anggota dewan.Teman sejawat anda di DPRD udah nggak mau menerima ente, apalagi masyarakat.Mundur aja dari anggauta DPRD sebelum dipaksa mundur oleh masyarakat dan teman-teman ente sendiri
    Beri Tanggapan Laporkan
  • dampak prilaku setan » 0 Tanggapan
    yang berbuat harus menuai hasil perbuatannya, apapun alasannya anda sendiri yang menimbulkan fitnah utk diri anda sendiri, orang yg mengerti akhlak dan sudah berkeluarga akan mengerti yg bkn muhrim tdk boleh berduaan di kamar. nila setitik rusak s**u belangnya... a
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.