Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Aksi Bakar Diri Bentuk Tertinggi Protes Politik

Hendry Sihalogo , Jurnalis-Jum'at, 16 Desember 2011 |07:09 WIB
Aksi Bakar Diri Bentuk Tertinggi Protes Politik
A
A
A

JAKARTA- Pengamat Politik Universitas Indonesia (UI) Boni Hargens menyatakan aksi bakar diri (self-immolation) yang dilakukan Sondang Hutagalung merupakan bentuk tertinggi dari protes politik. Hal itu dilakukan karena bahasa lidah dan pikiran kepala tak lagi digubris oleh elite yang lalim.

Boni menjelaskan, dalam sejarah hinduisme dan budhaisme aksi membakar diri adalah martyrisme yang lumrah. Jauh sebelum Sondang Hatagalung membakar diri, para biksu di Birma, Tibet, lebih dulu melakukannya.

Menurutnya, mereka membakar diri karena akumulasi kekecewaan terhadap pemerintahan yang dinilai tidak adil. Itulah sebabnya, aksi bakar diri oleh Mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK) itu adalah bahasa politik yang mengejutkan.

Untuk itu, Boni berharap pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke depannya lebih demokratis, khususnya, dalam menghadapi segala bentuk kritik dan realistis dalam mengambil keputusan. “Sebab, masalah yang dihadapi Indonesia sangat real dan rumit,” kata Boni dalam keterangannya, Jumat (16/12/2011).

Dia memaparkan, pada ranah sosial, Indonesia masih bermasalah dengan kebebasan sipil kelompok minoritas, kemiskinan, pengangguran, tenaga kerja tak terdidik yang diperbudak pabrik-pabrik, dan TKI yang diperbudak di luar negeri.

Sedangkan persoalan dalam ranah ekonomi, daya beli rata-rata masyarakat masih rendah, krisis pangan, serta menurunnya komoditas pertanian karena krisis dukungan dari negara. Dalam bidang hukum, kata Boni, Indonesia mempunyai segudang masalah korupsi yang tidak tuntas. Persoalan itu belum ditambah mengenai perilaku dan mental para penegak hukum yang dinilainya tidak sejalan dengan semangat reformasi.

Begitu juga dengan berbagai permasalahan politik. Pria yang sedang menempuh pendidikan di Humboldt Universitat, Berlin, Jerman, itu berpendapat, konflik elite kerap terjadi sehingga, politik menjadi medan pertarungan kekuasaan semata. “Koalisi politik dan manuver lain di parlemen didominasi oleh para kartel politik. Dampaknya, selalu terjadi ketidakstabilan dan turbulensi politik. Ironisnya, energi pemerintah dan parlemen terkuras untuk masalah elitis yang tidak bersentuhan dengan hidup rakyat,” katanya.

(Stefanus Yugo Hindarto)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement