JAKARTA - Majunya jenderal TNI sebagai bakal calon Gubernur DKI Jakarta menunjukkan gejala gagalnya parpol melakukan kaderisasi dan menciptakan tokoh populer.
Pengamat militer dari Universitas Padjajaran, Anak Agung Banyu Perwita juga berpendapat, majunya tokoh non struktural parpol sebagai imbas dari krisis kepemimpinan di partai politik tersebut.
"Hal ini sebenarnya dapat dimaklumi, karena kegagalan yang telah dilakukan kalangan parpol," ujar Agung, kepada okezone, Minggu (12/2/2012) malam.
Menurutnya selain terjadi krisis di parpol, kalangan militer diunggulkan karenaberhasil mendidik jiwa kemimpinan seseorang. "Militer sangat organisis, tegas, berwibawa, dan disiplin," terangnya.
Kendati begitu, lanjut Agung, persaingan pencalonan gubernur tidak hanya menjadi peluang bagi kalangan militer. "Elemen perguruan tinggi, pengusaha, wartawan, LSM dan lainnya bisa saja mencalonkan diri," paparnya.
Dia menambahkan siapapun calon pemimpin Jakarta, harus siap berkorban untuk menuntaskan sejumlah persoalan yang pelik dihadapi kota megapolitan ini. "Intinya seberapa berani mereka mengambil inovasi," ungkapnya.
Sebelumnya diberitakan, Mayjen TNI (Purn) Hendardji Soepandji, bekas asisten pengamanan Kepala Staf angkatan Darat (Kasad), telah mendaftarkan diri sebagai calon Gubernur DKI Jakarta melalui jalur independen. Bang Aji, panggilan akrab Hendardji, mengaku percaya diri untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur tanpa dukungan partai politik.
Selain itu, masih ada Letnan Jenderal (Purn) Nono Sampono, mantan komadan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), dan Mayor Jenderal (Purnawirawan) Haji Nachrowi Ramli, mantan Kepala Lembaga Sandi Negara (Ka Lemsaneg), yang ikut mengkampanyekan diri sebagai bakal calon gubernur.
(fer)