Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement
Habibi BK

Meaningfull Learning, Meaningfull Life

<i>Meaningfull Learning, Meaningfull Life</i>
A
A
A

Hari pendidikan nasional kali ini ditandai oleh beberapa kejadian yang sangat menyedihkan jika kita hendak melihatnya dari kacamata pendidikan. Generasi baru pemegang kekuasaan yang ternyata berbondong-bondong terlibat kasus-kasus korupsi, UNAS sebagai simbol kekalahan dunia pendidikan melawan kebohongan, perekonomian yang tak kunjung membaik, kekacauan di Papua sebagai akibat penguasaan model asing di atas kepentingan rakyat kecil, pemerintah yang kehilangan kepercayaan, dan lain sebagainya. Masalah demi masalah yang terus membanjir semakin membuat saya seolah kehilangan rasa percaya terhadap kata-kata Mario Teguh berikut:

"Kita menemukan kemudahan hidup dengan menghadapi kesulitannya, tidak harus dengan pandai dan gagah berani, tapi dengan ikhlas, dengan doa, dan dengan kesungguhan untuk melakukan yang bisa kita lakukan."

Jangan-jangan Pak Mario menuliskan semua itu karena beliau tidak pernah mengalami bagaimana kesulitan terus-menerus datang tanpa henti.  Semua kata-kata bijak itu dengan mudah beliau pahami, yakini dan sebarkan karena memang tidak pernah melepas kacamata untuk melihat berbagai kepahitan dalam kenyataan hidup di pelosok perkampungan, kolong jembatan, pinggiran kota atau tempat-tempat kumuh. Atau ada baiknya saya melihat dan mencari-cari prinsip baru yang agak lebih pesimistis namun realistis seperti halnya yang diungkapkan Cak Nun:

"Orang Indonesia itu krisis mental bukan karena  dirinya demikian, tapi karena  hak-hak dasar yang telah sekian lama tidak mereka dapatkan. SBY dan pemerintah harus bertanggung jawab untuk ini."

Namun apakah dengan pandangan yang agak lebih pesimistis lalu semua akan menjadi lebih baik? Nyatanya tidak.  Permasalahan di masyarakat tetap jalan dengan santai tanpa hambatan. Ah, runyam.  Sebagai seorang pendidik hampir saja saya melupakan bahwa pendidikanlah yang sebenarnya  memiliki potensi besar untuk menjadi lampu penerang kebuntuan (walau harus diakui dunia pendidikan juga tak lepas dari korupsi dan kebohongan).

Karena basis saya adalah pendidik, tentu saya melihat bahwa berbagai permasalahan di Negara ini awal mulanya adalah dari permasalahan pendidikan. Sekolah dan institusi pendidikan yang korup, pada akhirnya akan melahirkan pemimpin dan generasi korup.  Anda mungkin memiliki cara pandang yang berbeda, namun saya rasa itu  tidak mengapa, justru berbagai pendapat yang lahir dari cara berpikir yang sehat dan normal (yang biasanya berbeda satu dengan yang lain) akan melahirkan keutuhan yang memperbaiki.

Belajar sebagai substansi dari proses pendidikan adalah peristiwa berjangka panjang. Umumnya, hasil belajar secara permanen baru terasa setelah kita melalui proses tersebut sekian lamanya. Karenanya, sebagai pendidik saya dituntut memiliki kepekaan yang kuat untuk melihat masa depan anak didik saya berdasarkan apa yang terjadi sekarang.  Harapannya, mereka senantiasa dapat dievaluasi, diluruskan dan diperbaiki jika mengalami kesalahan sebelum semuanya serba terlambat.

Di hari Pendidikan Nasional ini saya jadi teringat dengan salah satu jargon pendidikan dari tokoh yang hari lahirnya kita jadikan sebagai lambang kebangkitan pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara; ”Pendidikan adalah sebuah Pembudayaan.”  Budaya sendiri memiliki arti cara hidup dan cara pandang masyarakat di suatu daerah.  Dengan demikian, bagaimana cara pandang, keyakinan dan cara hidup suatu masyarakt dilahirkan dari rahim pendidikan.  Budaya korup, penuh konflik, kebohongan dan malas lahir dari pendidikan yang sifatnya juga serupa.

Mungkin anda sekalian yang juga praktisi pendidikan akan menjawab, ”tidak usah khawatir, dunia pendidikan kita sekarang telah jauh berkembang. Berbagai teori, penelitian dan metode-metode  inovatif telah menjadi prioritas dari gerakan pendidikan saat ini.” Tentu saya sangat senang dengan berbagai kemajuan tersebut, namun alangkah baiknya jika kita melihat berbagai fenomena secara lebih mendalam dan memeras sari pati substansinya sehingga tidak mudah tertipu oleh perubahan-perubahan yang sifatnya di permukaan.

Kurikulum, sarana pembelajaran, pengembangan metode-metode mengajar adalah contoh dari tubuh pendidikan, saya melihatnya demikian. Sedangkan semangat belajar, interaksi guru-siswa, keteladanan dan kasih sayang merupakan jiwa dari pendidikan. Kedua elemen ini berpadu membentuk diri pendidikan seutuhnya.  Seseorang dikatakan sehat jika ia sehat jasmani, namun yang lebih penting lagi adalah sehat jiwanya.  Begitu pula dengan pendidikan, kesehatan padanya harus meliputi tubuh dan jiwa.  Di sinilah saya melihat arah perkembangan pendidikan kita secara umum melakukan kesalahan dengan hanya mengukur kesehatan dari sisi tubuh belaka. Ini yang harus kita ubah. Fokus pendidikan saat ini harusnya lebih memfokuskan diri pada semangat belajar, kualitas interaksi guru-siswa keteladanan, kasih sayang dan juga kerjasama yang apik antara orang tua, guru, masyarakat dan media.

Saya jadi teringat dengan salah satu konsep dalam pembelajaran yang diajarkan para dosen dulu semasa kuliah. Konsep yang saya maksud adalah konsep meaningfull learning yang dikemukakan oleh David Ausubel. Konsep ini sangat sederhana, sehingga tidak ada permasalahan  bagi kami untuk memahaminya. Menurut Ausubel belajar akan berjalan dengan baik jika bersifat bermakna (meaningfull) bagi siswa. Bermakna artinya pelajaran yang diberikan adalah berasal dari kehidupan siswa sendiri, sehingga benar-benar dapat mereka pahami.

Setelah bertahun-tahun  mengajar mengapa konsep yang sederhana tentang pembelajaran bermakna itu belum juga dapat saya terapkan dengan baik? Sekolah sepertinya hidup terpisah dengan kehidupan nyata. Anak-anak seperti diculik dari keluarga mereka. Kita para pengajar sepertinya terlalu sibuk dengan perangkat kurikulum standar yang ditetapkan secara nasional, sampai-sampai lupa untuk mengenali para siswa kita terlebih dahulu sebelum mengajarkan semua itu.

Untuk itulah, saya mencoba untuk kembali membuka lembar demi lembar catatan kepengajaran yang telah saya lakukan, baik yang tertulis ataupun tersimpan dalam ingatan.  Saya mencoba mencari, memilah dan membuat kesimpulan-kesimpulan sederhana berdasarkan pengalaman sehari-hari kepengajaran itu. Keseharian yang sederhana, spesifik (karena mungkin yang dialami tiap orang akan sangat berbeda) saya harapkan dapat menghasilkan satu pelajaran yang nyata dan bermakna. Dalam tulisan ini saya akan berbagai dengan para pembaca:

1. Pelajaran bermakna bukan hanya sekedar diambil dari  kehidupan sekitar guru dan siswa, melainkan benar-benar dapat memunculkan kesan mendalam, memotivasi dan menggugah siswa untuk belajar. Kita para guru seringkali cepat merasa puas dengan hanya mengajar sesuatu yang kita anggap bermanfaat bagi siswa. Lebih jauh, kita tidak mencoba untuk mendalami kondisi kelas, apakah siswa benar-benar tertarik dan mau untuk mempalajarinya. 

2. Bermakna akan menghasilkan pemahaman dan penghayatan. Selain melalui aktivitas yang mandiri, penghayatan membutuhkan model yang baik. Guru harus dapat menjadi model itu. Catatan pengalaman saya menunjukkan bahwa model yang paling sulit untuk diperankan guru pada umumnya adalah model belajar itu sendiri.  banyak sekali saya dapati sikap guru yang justru menjadi model buruk dalam belajar. Seolah belajar telah selesai ketika jabatan sebagai guru didapatkan.

3. Kebermaknaan tidak hanya lahir dari sistem pembelajaran di dalam kelas, melainkan sistem sekolah secara keseluruhan. Saya banyak menemui guru-guru yang sebenarnya kreatif dan penuh semangat, namun akhirnya tenggelam dalam iklim sekolah yang tidak sehat. Kebermaknaan juga membutuhkan revolusi pemimpin. Kreativitas dan semangat yang dimiliki oleh kepala sekolah tentunya akan memberikan perubahan yang jauh lebih besar daripada jika hanya dimulai dari seorang guru biasa.  Saya rasa sangat sulit untuk mendapatkan perubahan pada semua individu  guru di suatu sekolah. Yang lebih rasional adalah perubahan yang dimulai dari diri pemimpin.

Bermakna, kata yang sangat sederhana namun saya yakin memiliki dampak besar dalam mengubah wajah pendidikan kita. Jika pendidikan adalah sebuah pembudayaan, maka pembelajaran yang bermakna pada akhirnya akan membawa kita pada kehidupan yang juga bermakna.  Akhirnya, tunggu apa lagi, jadilah guru yang bermakna melalui pembelajaran yang menghidupkan makna kehidupan.

Habibi Bk
Dosen FKIP Universitas Wiraraja Sumenep


(M Budi Santosa)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement