Mengenal Vaksin AstraZeneca

Opini, Okezone · Senin 22 Maret 2021 13:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 22 58 2381934 mengenal-vaksin-astrazeneca-wIDWlxcVBk.jpg Foto: Reuters

PEMBUATAN vaksin bukan hal baru dalam ilmu kedokteran. Kebanyakan vaksin merupakan produk biologi yang kompleks. Sehingga sejumlah besar produk turunan hewani sering digunakan dalam pembuatannya.

Badan Kesehatan Masyarakat Inggris, GOV.UK dijelaskan bahwa kebanyakan produk hewani yang digunakan dalam pembuatan vaksin berupa Enzim atau Tripsin.

Sedangkan Tripsin itu hanya digunakan untuk media pembiakan.

Biasanya dipakai Tripsin yang berasal dari babi. Tripsin yang digunakan merupakan hasil ekstrak yang diambil dari bagian pankreas babi.

Tripsin babi memang kerap digunakan dalam pembuatan vaksin. Tripsin babi biasanya dipakai ketika proses awal penanaman untuk menumbuhkan virus pada sel inang.

Pada saat virus ditanam kemudian tumbuh, maka virusnya dipanen. Pada proses itu, pada dasarnya tidak ada persentuhan lagi antara tripsin dan si virus karena urusan si tripsin ini hanya dengan media tanamnya

Kemudian Tripsin itu ditambahkan ke kultur sel terakhir untuk mengaktifkan virus vaksin. Tripsin dipercaya sebagai protein yang mampu mempercepat reaksi biokimia tertentu.

Tripsin itu digunakan sebagai bahan mentah pada langkah awal pembuatan vaksin. Sehingga dalam langkah pencucian, pemurnian, dan pengenceran vaksin selanjutnya akan dihilangkan dari vaksin akhir.

Dalam pembuatan vaksin sebelumnya, Tripsin babi telah digunakan dalam pembuatan vaksin influenza. Juga untuk vaksin rotavirus, cacar air dan polio. Dalam penggunaannya vaksin yang mengandung Tripsin babi itu telah dianggap aman dapat diterima oleh sejumlah cendekiawan Muslim.

Terlebih, selain digunakan untuk membuat vaksin, Tripsin hewan juga sering dipakai ketika pembuatan produk medis lainnya, seperti insulin dan heparin.

KIPI langka

Otoritas obat Eropa atau EMA (Europe Medicines Agency) telah melakukan pemantauan dan melihat kemungkinan adanya KIPI langka. Yakni gangguan pembekuan darah di Eropa antara lain kejadian koagulasi intravaskular diseminata (Disseminated Intravascular Coagulation /DIC) dan trombosis sinus venosus sentral (Central Venous Sinus Thrombosis /CVST).

Sejauh ini sudah ditemukan 7 kasus langka trombosis pada pembuluh darah sinus di otak dari penyuntikan 1,6 dosis vaksin AstraZeneca di Eropa.

Tiga kasus berakhir dengan kematian pasien. Namun lembaga pengawas obat-obatan Eropa (EMA) sudah menegaskan, sejauh ini belum ada bukti kaitan langsung antara pemberian vaksin AstraZeneca dengan kasus trombosis, berdasar data yang dimiliki lembaga ini.

Berbasis pernyataan EMA ini, Jerman dan beberapa negara Eropa lainnya akan melanjutkan vaksinasi.

Pada kasus terburuk CVST bisa memicu stroke yang berakibat fatal. Walau begitu, trombosis tipe ini tergolong langka.

Angka insidennya antara dua sampai lima kasus per satu juta orang per tahun. Namun riset terbaru dari Australia menunjukkan jumlah kasus yang lebih tinggi, rata-rata 15,7 kasus per satu juta orang per tahun.

"Berarti estimasi insiden aktual jauh lebih rendah antara empat kali hingga delapan kali lipatnya", ujar Paul Hunter, profesor kedokteran dari University of East Anglia.

Terutama di media sosial muncul reaksi marah dan mempertanyakan: mengapa kasus trombosis yang lebih tinggi pada konsumsi pil anti hamil, dengan insiden 1.100 kasus per satu juta orang per tahun tidak dipermasalahkan?

Sementara pada kasus vaksinasi covid-19 dengan vaksin AstraZeneca, setelah muncul 7 kasus dari 1,6 juta dosis vaksinasi, pejabat kesehatan langsung menyetop nyaris semua program imunisasi?

Tapi pakar kesehatan kenamaan Jerman itu tidak mengungkapkan realitasnya secara komplet. Yakni, konsumsi pil anti hamil juga meningkatkan risiko terkena CVST yang jauh lebih berbahaya.

Saat ini investigasi terkait kasus tersebut masih berlangsung. Tetapi, belum ada bukti bahwa vaksin AstraZeneca menyebabkan pembekuan darah sampai sekarang.

Sementara itu vaksin AstraZeneca yang diterima Indonesia, melalui fasilitas Covax diproduksi di Korea Selatan, memiliki jaminan mutu sesuai standard persyaratan global untuk Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB).

BPOM juga menambahkan pada vaksin AstraZeneca yang diterima di Indonesia terdapat informasi peringatan kehati-hatian. Yakni pada orang dengan trombositopenia dan gangguan pembekuan darah.

AstraZeneca juga mencantumkan peringatan kehati-hatian penggunaan pada salah satunya dengan gangguan pembekuan darah.

Penggunaan vaksin AstraZeneca akan tetap dilaksanakan dengan didukung oleh Fatwa MUI terkait kebolehannya pada Fatwa No.14 Tahun 2021.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga mengumumkan fatwanya mengenai kehalalan dari vaksin Astrazeneca. Hasilnya, MUI tetap mengeluarkan fatwa vaksin tersebut boleh digunakan karena Indonesia sedang dalam kondisi darurat.

Vaksin AstraZeneca sendiri dikemas dalam dus berisi 10 file dengan volume 5 ml dan tiap file untuk 10 dosis vaksin.

Jangan ragu untuk melakukan Vaksin, dan setelah vaksin tetap melakukan Prokes covid 19. Terapi yang tepat saat ini adalah dengan disiplin melaksanakan Prokes Covid 19.

Penulis

Mukti Arja Berlian, dr,Sp.PD.

 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini