Ideologi Partai Baru

Selasa 24 April 2018 14:55 WIB
https: img.okezone.com content 2018 04 24 58 1890846 ideologi-partai-baru-j7fPTiB2JM.jpg Partai Perindo (foto: Okzone)

Buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota

Bersatu padu rebut demokrasi

Gegap gempita dalam satu suara

Demi tugas suci yang mulia

Hampir disetiap aksi mahasiswa kita mendengarkan lagu ini sebagai penyemangat perjuangan. Sebuah lagu tentang pembebasan.

Selain mahasiswa sebagai penggerak perubahan, kondisi para buruh, petani, dan rakyat miskin menjadi standar seberapa sukses negara membangun rakyatnya. Membebaskan mereka dari kebodohan dan kemiskinan.

Dalam konteks sosial ekonomi, keberhasilan menyejahterakan mereka adalah bukti keberhasilan dalam pembangunan. Dan kegagalan menyejahterakan mereka adalah kegagalan pemerintah dalam membangun manusia.

Marhaenisme Bung Karno

Mungkin petani yang paling terkenal dalam sejarah politik Indonesia adalah Kang Marhaen. Ia  pertama kali diperkenalkan Presiden Soekarno (Bung Karno) dalam pleidoinya pada persidangan di Landraad Bandung tahun 1930, dengan judul “Indonesia Menggugat”.

Terlepas ia benar-benar ada atau hanya sebagai sosok imajiner, nama petani yang ditemui proklamator Indonesia ini lalu menjadi nama ideologi partai bentukannya. Marhaenisme menjadi ideologi Partai Nasional Indonesia (PNI).

Meski merujuk pada sosok petani, ideologi partai yang berdiri 4 Juli 1927 ini tentu tidak hanya untuk memperjuangkan petani, tapi seluruh rakyat kecil. Marhaenisme Bung Karno maksudkan sebagai simbol perjuangan bagi petani, buruh, nelayan, pedagang, dan semua yang tergolong rakyat kecil.

Tujuannya agar rakyat terbebas dari segala bentuk eksploitasi yang dibawa oleh kapitalisme, imperialisme, dan kolonialisme ketika itu. Sehingga rakyat mampu mandiri, menjadi bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri.

Identitas Partai Baru

Jelang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019, bermunculan partai-partai baru yang juga tentu bertujuan memperjuangkan rakyat. Salah satu di antaranya adalah Partai Persatuan Indonesia (Perindo).

Dari nama yang mirip dengan salah satu sila Pancasila ini, Partai Perindo jelas menunjukkan posisinya sebagai partai nasionalis. Perindo memilih Pancasila sebagai ideologinya, sebagaimana juga memilih cita-cita pada Preambule Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) sebagai cita-cita perjuangan.

Ideologi sebagai identitas partai sangat penting. Identitas dibutuhkan sebagai pembeda satu dengan yang lain, khususnya untuk mereka yang terbilang baru. Tetapi dalam konteks politik, lebih dari itu ideologi juga merupakan pedoman, ke arah mana rakyat akan bersatu.

Gerobak Kereta Perubahan

Ideologi idealnya tidak hanya berhias retorika tetapi juga kerja nyata. Partai yang didirikan Hary Tanoesoedibjo ini sudah membuktikan dalam berbagai bantuan bakti sosial, baik yang dilakuka langsung oleh partai maupun sayap-sayapnya.

Salah satu bentuk bantuan yang paling banyak mendapat respon positif rakyat adalah pembagian gerobak untuk pedagang kecil.

Bagi yang lain gerobak tidak lebih dari kotak beroda berisikan jajanan, tapi Perindo melihat lebih dari itu. Sebagaimana Marhaen bagi PNI, gerobak bagi Perindo adalah bentuk perjuangan rakyat kecil.

Gerobak bukan sekedar simbol, melainkan bentuk nyata memperjuangkan rakyat kecil sebagaimana sudah dicita-citakan para pendiri bangsa. Jika Bung Karno dengan marhaennya memilih pintu

masuknya dari petani kecil, Hary Tanoesoedibjo dengan gerobaknya memulai dari pedagang kecil.

Tetapi semangat keduanya sama, yakni memperjuangkan kesejahteraan untuk seluruh rakyat kecil.

Hampir di tiap sudut kota terlihat gerobak pedagang kecil sebagai alat mengadu nasib. Gerobak adalah alat pedagang kecil memperbaiki taraf hidup, dan Perindo sadar betul akan hal itu. Bagi Partai Perindo, gerobak adalah kereta perubahan menuju kesejahteraan.

Bukti Bukan Janji

Tampaknya rakyat juga menyadari kesungguhan partai yang dideklarasikan pada 7 Februari 2015 ini. Itu terbukti dari hasil survey yang dirilis Cyrus Network pada 27 Maret - 3 April 2018, di mana tingkat elektabilitas Partai Perindo berada pada peringkat ke-7 (4,3%) dari 15 partai lama maupun baru.

Dari segi peluang memenangkan Pemilu Legislatif (Pileg), persepsi publik menempatkan Partai Perindo pada peringkat ke-5 (5,1%), mengalahkan beberapa partai yang sudah memiliki wakil di parlemen. Bahkan dalam survey yang sama, publik mempersepsikan bahwa yang akan terdepan memperjuangkan kepentingan rakyat, Partai Perindo berada di posisi ke-4 (7,0%).

Meski tidak diungkap oleh lembaga survey, di sini jelas persepsi publik pada partai berlambang rajawali ini, yakni sebagian rakyat Indonesia menaruh harapan. Partai Perindo akan kembali menjawab itu dengan pembagian 100.000 gerobak, yang dilakukan bahkan sebelum pelaksanaan Pileg.

Kenapa demikian? Karena yang rakyat butuhkan bukan janji, tapi bukti. Dan Partai Perindo sudah memberikan itu.

Oleh: Adli Bahrun

Kader Partai Perindo

(muf)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini