RS Negara Sekarat, Presiden Zimbabwe Berobat ke Luar Negeri

Ilustrasi. Krisis kesehatan di Zimbabwe. (Foto: dok. UNICEF)

Ilustrasi. Krisis kesehatan di Zimbabwe. (Foto: dok. UNICEF)

HARARE – Di saat para warganya sekarat karena tidak ada pengobatan lagi yang bisa disediakan dokter dan suster di rumah sakit, Presiden Zimbabwe Robert Mugabe terbang ke Singapura untuk berobat. Demikian juga yang dilakukan anggota keluarga dan para pejabatnya. Mereka tak sungkan melakukan perjalanan dan perawatan ke luar negeri yang pastinya mahal.

Seperti diwartakan The Zimbabwean, Kamis (22/9/2016), sekira 90 persen klinik dan rumah sakit di Zimbabwe, termasuk RS Harare di ibu kota kehabisan persedian antibiotik, aspirin, obat penghilang rasa sakit dan stok farmasi lainnya. Bahkan situasinya lebih buruk lagi di daerah pedesaan, yang notabenenya jauh dari rumah sakit.

Sementara 80 persen lowongan untuk bidan di sektor publik masih kosong melompong, angka kematian ibu dan bayi semakin tinggi. Akan tetapi, putri Mugabe, Bona, tahun ini tetap bisa melenggang keluar negeri untuk melahirkan bayinya.

Di tengah realita menyedihkan ini, tetap saja pemerintah bergeming. Presiden tertua di dunia yang masih menjabat saat ini menolak dilengserkan, tapi juga tidak mampu menyelesaikan krisis parah yang dibuatnya. Jelas sekali mereka tidak peduli pada rakyat dan hanya mementingkan kesejahteraan mereka sendiri.

Pemerintahan Mugabe memutuskan untuk mengabaikan aspek kesehatan publik. Padahal, merupakan kewajiban negara untuk menjamin, memberikan akses, mengupayakan, menerima dan memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas sama rata bagi seluruh rakyatnya.

Keadaan di Zimbabwe ditaksir akan semakin memburuk dengan datangnya musim penghujan. Rumah-rumah sakit tidak akan mampu menampung lonjakan pasien yang menderita penyakit musiman, seperti kolera dan tipoid.

Sektor pelayanan kesehatan publik kian terbengkalai tatkala para dokter dan perawatnya tidak diupah secara layak. Negara di Afrika bagian selatan ini sejatinya sudah bangkrut, bobrok dan dianggap gagal sejak krisis ekonomi melanda. Dolar Amerika habis, mata uang tidak stabil hingga penarikan tunai pun dibatasi. Pemerintah juga gagal membayar gaji para pegawainya tepat waktu.

(Sil)
breaking news x