MAGELANG - Jajaran TNI Angkatan Darat (AD) siap melatih masyarakat sipil sebagai komponen cadangan dalam menghadapai ancaman militer.
Kepala Staf TNI AD Djoko Santoso menegaskan hal tersebut menanggapi adanya rancangan undang-undang komponen cadangan, yang akan digunakan sebagai dasar merekrut masyarakat sipil sebagai kekuatan perlawanan fisik bersenjata (kombatan) dalam menghadapi ancaman militer.
"Jika memang diperintahkan TNI AD untuk melatih akan kita laksanakan. Tapi bagaimana kita melatihnya, itu kita tunggu undang-undangnya," terangnya di sela-sela pembukaan Lomba Peleton Tangkas TNI AD tahun 2007 di Lapangan Tembak Akademi Militer, Plempungan, Salaman, Magelang, Jawa Tengah, Jumat (2/11/2007).
Menurut Djoko, rancangan undang-undang tersebut mrupakan suatu upaya dalam rangka menata sistem pertahanan keamanan yang menganut sistem pertahanan rakyat semesta. Di mana, TNI dan Polri merupakan komponen utama. "Sementara, komponen cadangan berasal kekuatan masyarakat yang melalui suatu pelatihan, seperti Hansipm atau Hanra," katanya.
Selain itu, kata Djoko, komponen cadangan tersebut sangat diperlukan dalam rangka memperkuat pertahanan dan ketahanan bangsa terhadap ancaman baik dari dalam maupun dari luar. Namun, aturan terkait komponen cadangan itu, merupakan wewenang antara pemerintah dan DPR.
"Sedangkan TNI hanya sebagai pelaksana. Cadangan itu bukan tergantung kesiapan AD, tetapi kesiapan pemerintah dan DPR untuk membahasnya," jelas perwira bintang empat ini.
Sementara, terkait persenjataan bagi prajurit, TNI AD tidak melulu tergantung produksi luar negeri. Menurutnya, semua senjata untuk prajurit batalyon infantri sudah bisa diproduksi di dalam negeri, oleh PT Pindad, Bandung. Bahkan, kendaraan lapis baja di tingkat tertentu juga sudah bisa dibuat di Pindad. "Alat lain, seperti meriam 105 juga sudah bisa dibuat di Pindad," tandasnya.
Djoko mengatakan, secara umum kondisi alutsista yang digunakan TNI AD hingga saat ini masih bisa mendukung pelaksanaan tugas pokok jajarannya. Menurutnya, pembangunan angkatan perang, bukan sekadar bertumpu pada alutsista, melainkan kemampuan sumber daya manusia, dukungan rakyat dan pemerintah, serta doktrin.
"Pembangunan sumber daya manusia ini yang menjadi fokus pembangunan kekuatan TNI AD pada masa mendatang," tandasnya.
(Nurfajri Budi Nugroho)