Greenpeace Laporkan Dampak Industri Kelapa Sawit di Dumai

Fetra Hariandja, Jurnalis
Minggu 18 November 2007 14:37 WIB
Share :

DUMAI - Kapal Rainbow Warrior milik Greenpeace meninggalkan Dumai, Riau, pelabuhan ekspor minyak kelapa sawit terbesar di Indonesia menuju Jakarta. Organisasi lingkungan internasional itu akan menyampaikan pesan kepada pemerintah Indonesia sebelum menuju Bali dalam rangka pertemuan PBB tentang perubahan iklim. Laporan tersebut terkait pencemaran limbah di Dumai.

Sabtu, 17 November, Rainbow Warrior dipaksa menyingkir oleh kapal penarik saat memblokir kapal tanker MT Westama yang hendak keluar dari pelabuhan Dumai. Aksi Rainbow Warrior itu untuk membeberkan dampak buruk dari industri kelapa sawit terhadap lahan gambut dan hutan di Indonesia, serta iklim global.

Tindakan tanpa kekerasan Greenpeace tersebut untuk menentang ekspor minyak kelapa sawit dan telah menjadi perhatian para pejabat tinggi di Jakarta. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahkan mengadakan pertemuan terbatas dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Menteri Pertanian Sekjen Departemen Kehutanan, untuk membahas kegiatan Rainbow Warrior dan seruan Greenpeace mengenai penerapan moratorium atas deforestasi dan konversi lahan gambut.

Menteri Kehutanan MS Kaban dijadwalkan untuk bertemu dengan Greenpeace di Jakarta pada Selasa, 20 November 2007, untuk membahas kondisi tersebut.

Konversi hutan dan lahan gambut untuk kepentingan perkebunan kelapa sawit merupakan penyebab utama deforestasi di Indonesia. Karbon yang terlepas karena kegiatan tersebut menyebabkan Indonesia menjadi negara ketiga pelepas emisi karbon terbesar di dunia.

"Kami ingin agar pemerintah Indonesia segera menerapkan moratorium atas pengalihan hutan dan penghancuran lahan gambut demi mencegah perubahan iklim yang berbahaya," kata juru kampanye kehutanan Greenpeace Asia Tenggara, Bustar Maitar dalam rilis yang diterima okezone, Minggu (18/11/2007).

Kontribusi Indonesia terhadap perubahan iklim yang berbahaya akan meningkat, kecuali ada tindakan yang diambil untuk melindungi hutan dan lahan gambut.

"Temuan dalam laporan terakhir Panel Antarpemerintah PBB tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC) yang dikeluarkan Sabtu kemarin merupakan peringatan tegas bahwa seluruh pemerintah di dunia harus mengambil langkah tegas untuk melindungi iklim global," tambah Bustar.

"Hutan Indonesia berpotensi menjadi bagian penting dalam solusi global untuk perubahan iklim. Namun, jika pengalihan hutan terus terjadi, hutan-hutan di Indonesia justru akan menjadi bagian masalah perubahan iklim. Kami menyerukan pula agar masyarakat internasional mendampingi Indonesia dalam memastikan upaya untuk menghentikan penggundulan hutan di negara ini," kilahnya.

Sabtu kemarin di Valensia, Spanyol, Panel Antarpemerintah PBB tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC) menyetujui laporan Sintesa Penilaian keempat (Fourth Assessment Synthesis) yang merangkum beberapa hal penting dari tiga laporan ilmiah sebelumnya tentang perubahan iklim, dampak dan langkah-langkah mitigasi yang telah dipublikasikan. Laporan keempat ini akan menjadi dokumen rujukan bagi para pengambil keputusan di waktu yang akan datang.

Di pertemuan perubahan iklim di Bali, Greenpeace akan menyerukan agar ada kesepakatan untuk merundingkan mekanisme baru pembiayaan guna mengurangi deforestasi dengan tajam. Penurunan emisi akibat deforestasi harus melengkapi penurunan emisi dari pembakaran bahan bakar fosil.

Greenpeace adalah organisasi kampanye independen yang bekerja untuk mengubah sikap dan perilaku, demi melindungi dan melestarikan lingkungan hidup dan mengusung perdamaian.

(Fetra Hariandja)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya