TOKYO - Pemerintah Jepang sesalkan Korea Utara (Korut) yang mengabaikan batas waktu akhir tahun untuk mengumumkan program nuklirnya. Tokyo mendesak Pyongyang untuk segera melaksanakannya pada tahun baru ini.
Selama ini Korut selalu mengelak untuk mengumumkan program nuklirnya. Banyak pihak menilai, Pyongyang masih menjalankan program nuklir secara tersembunyi meski telah menonaktifkan produksi plutonium di reaktor Yongbyon.
"Sungguh mengecewakan pengumuman tentang program nuklirnya tidak dilakukan hingga saat ini. Korut perlu mengungkapkan data yang benar dan menyeluruh tentang seluruh program nuklirnya sesegera mungkin," tegas juru bicara Kementerian Luar Negeri Jepang Mitsuo Sakaba seperti dilansir AFP, Senin (31/12/2007).
Jepang mendesak negara komunis itu untuk mendeklarasikan program nuklirnya pada awal tahun serta menonaktifkan tiga fasilitas nuklir di Yongbyon. Pyongyang telah diberi batas waktu hingga akhir 2007 untuk menonaktifkan dan mendeklarasikan seluruh program nuklirnya.
Syarat itu merupakan tahap lanjut dari kesepakatan pelucutan nuklir dengan imbalan bantuan dalam perundingan enam negara. Namun tampaknya Korut, menurut Korea Selatan (Korsel), memiliki program pengayaan uranium yang dirahasiakan.
Kantor berita Jepang, Kyodo News menjelaskan, Korut telah mengurangi shift pekerja dalam fasilitas nuklirnya. "Pyongyang telah mengatakan pada Washington sudah mengurangi dari empat shift ke satu shift pekerja sehari di fasilitas nuklirnya seperti hasil pengawasan pakar nuklir Amerika Serikat (AS)," tulis Kyodo News.
Korut berdalih, lambatnya penonaktifan fasilitas nuklirnya karena keterlambatan pengiriman bantuan energi yang telah dijanjikan. Jepang merupakan negara paling kritis terhadap Korut dalam perundingan enam negara dan kadangkala berbeda sikap dengan AS, aliansi utamanya.
Ketegangan Korut-Jepang itu merupakan sisa dari masalah penculikan warga sipil Jepang pada 1970-an dan 1980-an yang saat ini masih belum jelas. Warga Jepang yang diculik Korut itu dijadikan pengajar bahasa dan budaya Jepang pada agen rahasia Pyongyang.
(M Budi Santosa)