KARANGANYAR - Tanah potensial kritis di Kabupaten Karanganyar hingga tahun 2008 masih tersisa sebanyak 21 ribu hektare (ha). Sementara, selama lima tahun terakhir upaya penyelamatan bisa menyelamatkan sekitar 20 ribu ha, yang masuk kategori sangat kritis.
"Lahan dengan kategori sangat kritis sudah tidak ada dan kini tinggal kategori sangat berpotensi kritis," kata Kepala Subdinas Kehutanan, Dinas Pertanian Pemkab Karanganyar Ir Siti Maisyaroh, di Karanganyar, Jawa Tengah, Minggu (16/3/2008).
Menurut dia, hal tersebut yang menjadi fokus penyelamatan konversi hutan. Setiap tahun minimal Pemkab melakukan penanaman puluhan ribu pohon di lahan tersebut.
Lahan yang masuk kategori kritis itu antara lain memiliki kemiringan lebih dari 30 persen. Jika dipotret dari udara, lahan tersebut terlihat kosong lebih dari 50 persen. Lahan itu biasanya dijadikan tempat pertanian semusim.
"Itu yang banyak terjadi di wilayah atas Karanganyar, di seputar Gunung Lawu. Karena itulah fokus penyelamatan lahan juga dilakukan di seputar wilayah itu mulai kecamatan Jenawi, Ngargoyoso, Tawangmangu, Karangpandan, hingga Jatiyoso dan Jumapolo dan Jatipuro," terangnya.
Pihaknya juga terus menggalang kerja sama dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), Perhutani, dan juga kalangan swasta yang peduli pada upaya penyelamatan lahan kritis.
(Ismoko Widjaja)