BADUNG Â - Fenomena pembakaran baliho Cagub - Cawagub Bali, Winasa - Alit Putra (Win - Ap) dinilai trik politik lama. Pembakaran diduga dilakukan kader calon, bukan lawan politik, untuk meraih simpati.
Anggota DPRD Badung dari dapil Kuta Utara Anak Agung Gede Kusuma Wijaya mengaku mengetahui fenomena pembakaran baliho Win - Ap. Hanya saja, setelah dilakukan pengecekan di lapangan, tidak ada satupun kader mengaku membakar.
"Anehnya, setelah dilakukan pengecekan di kader, tidak ada satupun yang mengaku melakukan," ujar politisi PDIP ini, Rabu (14/5/2008).
Pembakaran baliho, imbuh Kusuma Wijaya, merupakan trik lama. Pasalnya, sejak jaman tiga partai dulu, pembakaran baliho sudah berlangsung. Hanya saja, pembakaran dulu dilakukan karena kecemburuan politik terhadap partai mayoritas.
Kemarahan rakyat akibat manipulasi partai utama ini diekspersikan dengan pembakaran baliho maupun spanduk partai lawan. Namun, saat ini kondisi jauh berbeda. Kanal suara rakyat terbuka melalui banyak partai
"Trik pembakaran baliho maupun spanduk untuk meraih simpati saat ini tidak efektif. Sebab pembakaran menghasilkan citra buruk, malah tidak memperoleh simpati," tegasnya.
Hal senada diungkapkan anggota Fraksi Golkar DPRD Badung, I Gusti Ngurah Bhuminata. Berdasar penelusuran di lapangan, tidak ada satupun kader yang mengaku pembakaran spanduk Win - Ap.
"Anehnya, spanduk yang dibakar hanya Win - Ap(Demokrat, red), bukan CBS (Golkar, red) dan Pastika - Puspayoga (PDIP, red). Sehingga, ada kemungkinan kejadian itu hanya manipulasi untuk meraih simpati saja," ujarnya.
Mengatasi fenomena rebutan simpati melalui pembakaran baliho tersebut, kedua politisi menggunakan cara lebih halus. "Kami menekankan kader untuk tidak melakukan anarki, pembakaran misalnya. Sebab, ini akan merugikan calon partai," tegas mereka berdua.
(Fitra Iskandar)