PADANG - Kekejaman perang dunia ke II masih terlukis dalam relung kebisuan yang tersimpan dari puing-puing dan reruntuhan, yang berada di kaki gunung Siti Nurbaya Kelurahan Batang Harau, Kecamatan Padang Selatan, Padang, Sumatera Barat.
Salah satu saksi bisu itu adalah sebuah meriam sepanjang 10 meter yang masih kokoh bertengger meski sudah karatan.
Moncongnya mengarah ke laut yang terletak di mulut Muara Padang, yang dulunya sebagai sentral penyaluran rempah-rempah bagi kolonial Belanda.
Â
Menurut penduduk di kawasan itu Slamet Syareko (41), ia mengetahu sekelumit cerita bersejarah di tempatnya dari mendiang sang ayah M Syarif B, yang menjadi salah seorang pejuang kemerdekaan.
Syarif lahir 1921 dan meninggal pada 1987 dengan pangkat terakir Kapten Polisi. Sementara kakek Slamet, yang tidak lain adalah ayah Syarif, berasal dari Jawa.
Sang kakek merupakan tahanan dari Belanda yang dibuang ke Sumatra Barat, pada 1837. "Orang tua saya dulu mengatakan bahwa meriam itu di buat pada sekitar 1920, oleh pemerintah Belanda," kata Slamet.
Â
Sebelumnya meriam dikawasan gunung Siti Nurbaya banyak jumlahnya. Namun oleh warga yang tak bertanggung jawab dipotong dan di jual ke tempat penampungan besi bekas di Kota Padang.
Â
"Yang tersisa hanya meriam sepanjang 10 meter ini, mungkin warga tidak mampu mengangkat meriam tersebut, karena diperkirakan bobot meriam ini lebih dari 30 ton," tuturnya.
Â
Meriam tersebut diletakkan dalam bunker yang berbentuk bulat, dengan luasnya sekitar 6x5 meter, yang menjadi ruang khusus penyimpanan senjata.
Â
Pada 1980 warga menemukan pelurunya, yang masih aktif. Panjang peluru meriam tersebut sekitar 1,5 meter dengan diameter 50 mm. Jarak tempuh tembakan meriam itu konon mencapai sekitar 36 mil.
Â
"Meriam ini digunakan sebagai pertahanan Belanda terhadap serangan Jepang. Jika ada kapal musuh yang masuk target meriam, akan ditembak," katanya.
Â
Tak hanya itu meriam itu bisa diputar meski hanya 30 derajat. Tebal dinding bunker tersebut sendiri sekitar 50 cm, terbuat dari bahan semen yang dicampur dengan batu kali. Sehingga tahan terhadap tembakan musuh.
Â
Tak jauh dari meriam tersebut, atau pada radius 10 meter, ada sebuah benteng buatan Belanda bernama "GOW". Benteng tersebut menurut Slamet, sempat hancur oleh tembakaan kapal perang tentara Jepang.
Â
Jika perjalanan ke atas puncak bukit Siti Nurbaya, akan banyak ditemukan bungker, tempat pengintaian musuh, bahkan tempat penyiksaan. Mereka adalah puing saksi sejarah yang sudah dimakan usia.