BLITAR - Andaryoko Wisnu Prabu, warga Pedurungan Semarang yang beberapa waktu lalu mengaku-ngaku sebagai sosok Suprijadi, pejuang PETA yang hilang misterius, "dikeroyok" peserta forum bedah buku "Mencari Suprijadi: Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno".
Pengeroyokan ini bukan dalam bentuk kekerasan fisik, melainkan cecaran pertanyaan para peserta forum yang secara bergantian memojokkannya. Bahkan salah satu pengeroyok datang langsung dari keluarga pahlawan Soeprijadi.
Suroto, adik tiri Soeprijadi yang juga putra mantan Bupati Blitar Darmadi mendapat kesempatan pertama untuk mengajukan pertanyaan. Suroto langsung mencecar dengan pertanyaan seputar sejarah pendidikan Soeprijadi. Kapan lulus dan siapa nama guru asal Padang yang mendidiknya? Namun Andaryoko yang didampingi Baskara T Wardoyo, si penulis buku yang menimbulkan kontroversi sejarah itu, menolak untuk menjawab pertanyaan Suroto.
"Kedatangan saya kemari bukan untuk membuktikan saya Soeprijadi atau bukan. Melainkan hanya ingin menceritakan pengalaman sejarah saya. Nama Soeprijadi sudah saya letakkan sejak tahun 1950," ujarnya dalam acara yang digelar di Perpustakaan Nasional Bung Karno, kompleks Makam Bung Karno, Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Sabtu (1/11/2008).
Sontak jawaban Andaryoko membuat sebagian besar peserta forum menggerutu. Sebab harapan peserta bisa hadir dalam acara, hanya untuk untuk mengetahui kebenaran sejarah tentang Soperijadi, termasuk pengakuan langsung dari bibir Andaryoko.
Namun kendati demikian peserta forum tidak menyerah begitu saja. Lepas dari Suroto, mantan anak buah Soeprijadi di PETA Sukiarno, langsung mengacungkan tangan ganti mencecar Andaryoko dengan pertanyaan lain. Sukiarno bertanya di asrama mana Soeprijadi pernah bertempat tinggal? Termasuk siapa saja teman-teamnya?
Lagi-lagi Andaryoko mengelak menjawab. Kali ini pria yang mengenakan seragam tentara PETA lengkap dengan lencana Burung Garuda Pancasila sedikit menjelaskan, jika sekitar 5 tahun silam, dirinya sempat datang ke Blitar dan bertemu Sukiarno.
"Saat pertemuan itu saya tunjukkan foto saya semasa bujang dan dia menangis (Sukiarno). Terserah kalau dia (Sukiarno)Â tidak mau mengakuinya," ujarnya mencoba menyerang balik.
Suasanapun menjadi panas, karena Sukiarno bersikukuh mengaku tidak pernah bertemu Andaryoko. Untungnya penulis buku Baskara langsung menengahi. Baskara mengatakan jika tujuannya menulis dan menghadiri acara ini bukan untuk memutuskan jika Andaryoko adalah Soeprijadi. Kepentinganya sekedar memberikan sudat pandang lain mengenai sosok Soeprijadi.
"Karena sudah jelas disampaikan beliau (Andaryoko), kalau dia bukan Soeprijadi yang lahir di Trenggalek dan putra Pak Darmadi mantan Bupati Blitar," paparnya.
Dalam kesempatan itu Andaryoko memang menyampaikan jika dirinya bukanlah Soperijadi anak mantan Bupati Blitar Darmadi, melainkan putra Pujo Kusumo asli Salatiga Jawa Tengah. Terlepas dari kebenaran asli atau palsu, Andaryoko dengan fasih menceritakan pengalaman sejarah, sejak 1945 hingga pasca kemerdekaan RI sampai wafatnya Bung Karno.Â
(Hariyanto Kurniawan)