Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Tim Pemkot Blitar Ajak Andaryoko Napak Tilas

Solichan Arif , Jurnalis-Jum'at, 15 Agustus 2008 |21:04 WIB
Tim Pemkot Blitar Ajak Andaryoko Napak Tilas
A
A
A

BLITAR - Pengakuan seorang pria bernama Andaryoko Wisnu Prabu (89) sebagai Supriyadi, Pejuang Pembela Tanah Air (PETA), menimbulkan polemik. Tak ingin polemik ini terus berlanjut, tim dari Pemerintah Kota Blitar menjemput Andaryoko untuk bertemu keluarga Supriyadi di Blitar.

Selain bertemu dengan keluarga Supriyadi, Andaryoko, warga Jalan Mahesa Pedurungan, Semarang, Jawa Tengah itu akan diajak napak tilas sejarah pemberontakan PETA di Blitar. Sayang, niat tersebut urung dilakukan lantaran Andaryoko tidak berada di rumahnya.

"Pak Andaryoko masih dalam perjalanan dari Jakarta pulang ke Semarang. Sejak pagi tadi, kami sudah berada di Semarang dan langsung menuju rumah Pak Andaryoko," ujar Kabag Humas Pemkot Blitar I Made Sukawardhika kepada wartawan, Jumat (15/8/2008).

Sambil menunggu Andaryoko, Made mengisi dengan melihat-lihat kediaman Andaryoko. Menurut penilaiannya, tempat tinggal Andaryoko tergolong bangunan yang maju. Kemungkinan, ini disebabkan empat orang keturunan Andaryoko bekerja di Kedutaan Besar London, Inggris.

"Walau begitu, rumah Pak Andaryoko relatif sederhana dibandingkan tetangga di kompleks kanan kirinya," terang Made.

Selain itu, Made juga mencoba mencari tahu tentang Andaryoko dari keluarga maupun pejabat RT dan RW setempat. Ini diakui Made menjadi bahan untuk memastikan siapa sebenarnya sosok Andaryoko tersebut, sebelum bertemu langsung dengannya. "Kami sudah sedikit bisa menyimpulkan. Namun untuk kebenaranya, tentunya masih menunggu kedatangan Pak Andaryoko," paparnya.

Made berpendapat, permasalahan seputar "munculnya" Supriyadi memang harus segera diselesaikan. Bahkan pihaknya menargetkan sebelum 17 Agustus 2008, sudah selesai.

Jika memang terbukti Andaryoko adalah Supriyadi asli pejuang PETA, menurut Made, Pemkot akan meminta menjelaskan kembali kronologis peristiwa pemberontakan 14 Februari 1945 tersebut.

Sementara itu, Soeroto (70) adik tiri satu ayah Supriyadi yang bertempat tinggal di Wisma Darmadi Kota Blitar, sebelumnya mengatakan keluarga sangat siap bertemu dengan Andaryoko yang mengaku sebagai sosok kakaknya. Namun sampai saat ini pihak keluarga tetap belum yakin jika Andaryoko adalah Supriyadi.

"Kami keluarga yang ditinggalkan tetap memiliki keyakinan, Supriyadi sudah meninggal dunia dieksekusi tentara Jepang," tuturnya.

(Lusi Catur Mahgriefie)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement