JAKARTA - Proses pemulangan jemaah haji di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, diwarnai insiden banyaknya barang bawaan yang tak terangkut, karena melebihi kuota maksimal pesawat.
Meski sudah diberitahu bahwa jemaah haji hanya diperbolehkan membawa kopor di bagasi dengan berat maksimal 32 kilogram dan satu tas tentengan. Namun, faktanya masih banyak yang melanggar. Alhasil banyak barang bawaan yang terpaksa ditinggal di bandara.
Berdasarkan informasi yang dilansir dari www.depag.go.id, Jumat (4/12/2009), Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi sudah berkali-kali mengingatkan agar jemaah tidak membawa barang bawaan berlebihan. Namun, imbauan ini masih kurang efektif.
Pelanggaran biasanya dilakukan dengan cara menggelembungkan isi tas tentengan. Pasalnya, untuk kapasitas koper di bagasi sudah tidak bisa disiasati. Sejak sebelum dibawa ke Jeddah, kopor sudah ditimbang. Sampai di Jeddah pun masih dicek lagi di Madinatulhujjaj. "Sampai sekarang belum ada kelebihan bagasi," kata H Silitonga, petugas X Ray di Madinatulhujjaj.
Barang bawaan di luar kapasitas yang diperbolehkan, kebanyakan berupa oleh-oleh khas Arab. Seperti sajadah, kurma, surban, dan air zam zam. Ada jamaah yang membawa satu jeriken 10 liter Zamzam, ada pula yang membawa kurma satu tas kresek besar.
Sebagian jemaah lain, malah membawa biscuit, minuman kemasan, dan jenis makanan yang sudah ada di Indonesia. Uniknya, ada juga jemaah yang membawa pulang peralatan memasak.
Tas-tas berisi aneka barang milik jemaah haji asal Indonesia itu kemudian diangkut petugas bandara ke tempat penyimpanan barang jemaah. Barang-barang tersebut selanjutnya akan dimusnahkan.
(Muhammad Saifullah )