JAKARTA - Seringnya terjadi kecelakaan berakibat meninggal dunia di lokasi pembangunan proyek Banjir Kanal Timur (BKT) perlu menjadi perhatian pihak pengelola. Meski sudah memasuki tahap penyelesaian akhir proyek tersebut masih terus mengakibatkan korban jiwa.
Kapolsek Duren Sawit, Jakarta Timur, Kompol Titik Setyowati mengatakan hingga saat ini sudah ada tiga korban yang meninggal dunia di proyek BKT yang ada di wilayahnya. "Semuanya dikarenakan kelalaian masyarakat akan bahaya berada di sekitar lokasi," ungkapnya, Senin (7/12/2009).
Kasus pertama menimpa warga yang tengah memancing di lokasi, selanjutnya ada karyawan proyek yang malah nekat mandi di lokasi. Terakhir adalah karena anak-anak yang bermain di lokasi. "Pengelola paling tidak harus sering-sering mengingatkan warga agar tidak memasuki lokasi proyek," ungkapnya.
Lebih lanjut, menurut Kapolsek, meski pengelola sudah memasang rambu peringatan namun jumlahnya masih kurang banyak. "Pengelola seharusnya menambah papan peringatan lagi di lokasi yang dapat diakses masyarakat," ungkapnya. Karena wilayah proyek tersebut sangat luas Kapolsek memahami sulitnya untuk mengawasi masyarakat.
Jumlah rambu peringatan yang terpantau olehnya masih belum maksimal. Perlu dibuat sampai ke sudut-sudut yang mudah dilihat masyarakat. "Proyek ini sangat luas, tidak mungkin menaruh personel atau menutup seluruhnya," ungkapnya. Cukup memasang rambu-rambu peringatan lokasi berbahaya untuk diakses warga.
Paling tidak dia meminta pengelola untuk memasang di sekitar lokasi yang dapat diakses masyarakat dengan tali peringatan seperti berwarna hitam dan kuning. "Saran ini menurutnya sudah sering diimbaukan ke Pemda setempat," tandas Titik. Namun kesadaran masyarakat sepertinya masih rendah meski sudah sering melihat akibatnya.
Dia mencatat korban tewas di sekitar proyek tersebut antara lain, Umar Ali (27), warga Bintara 11 RT 03/09, Bekasi Barat. Iwan bin Taat (23), karyawan proyek dan terakhir seorang bocah sepuluh tahun tanpa identitas tewas tenggelam di lokasi yang sama. "Bocah tersebut merupakan anak gelandangan yang tengah bermain lokasi," ujarnya.
Pejabat Pembuat Komitmen Proyek BKT, Parno mengatakan, pihaknya sudah memasang sedikitnya 20 rambu di titik-titik rawan setelah kemarin. "Titik rawan tersebut dikarenakan proyek ini bersinggungan dengan pemukiman warga," terangnya. Sehingga mudah diakses oleh masyarakat.
Wilayah rawan tersebut menurut catatannya ada di kelurahan Duren Sawit, Pondok Kopi, dan Ujung Menteng. Di tempat itu masyarakatnya kurang sadar akan bahaya memasuki wilayah proyek. "Mulai kemarin juga sudah kami tembok beton dan akan dipasang pagar kawat," tandasnya.
Menurut Parno, pihaknya sudah seringkali memasang rambu-rambu dan besi penghalang namun selalu hilang. Dia pun berharap masyarakat tidak sembarangan memasuki lokasi proyek. Selain banyak alat-alat berat, kondisi tanah disekitar lokasi menurutnya sangat tidak stabil.
Lebih lanjut, dia mengatakan pihaknya tengah melakukan penyelesaian proyek yang masuk dalam program seratus hari Presiden SBY. "Sejauh ini sudah 95 persen pembangunan fisik telah diselesaikan," paparnya. Dia pun berharap agar Pemda setempat dapat menyelesaikan pembebasan lahan agar tidak menjadi hambatan penyelesaian fisik yang ditargetkan akhir Desember ini.
(M Budi Santosa)