BANDUNG - Rencana pembangunan transportasi kereta bawah tanah (subway) di Kota Bandung tampaknya baru sebatas mimpi.
Investor China yang awalnya keukeuh hendak menginvestasikan dananya bagi pembangunan subway tersebut membatalkan rencana tersebut. Koordinator tim pemrakarsa Petrina Faustine menyebutkan, pembangunan subway akan menelan biaya sekitar 120 US$ atau senilai Rp1,2 triliun.
“Dari pertemuan pertama sampai pertemuan ketiga dengan Pemkot Bandung memang masih membahas soal pembangunan subway. Tapi kali ini kami menawarkan alternatif lain yang mampu menghemat biaya pembangunan tanpa mengurangi tujuan pengadaan sarana transportasi massal di Kota Bandung yang dapat mengatasi masalah kemacetan,” ungkap Petrina belum lama ini.
Dia mengatakan, alasan tersebut menjadi dasar kuat untuk mempertimbangkan alternatif sistem transportasi lainnya. Petrina memaparkan, investor China yang kali ini mendatangkan ahli transportasi massal rail and rapid transit dari Tong Ding Institute China, telah melakukan survei karakteristik wilayah di Kota Bandung.
“Subway lebih berisiko dan terlalu mahal, akan lebih mudah kalau membangun sistem transportasi kereta di atas tanah. Lagipula, di Bandung tidak ada gedung yang tinggi. Sehingga sangat memungkinkan untuk kereta diatas tanah,” jelasnya.
Rencananya, lanjut dia, pembangunan subway akan diganti dengan sistem transportasi lain yakni kereta di atas tanah atau yang disebutnya Mass Rapid Transit (MRT) atau bisa dengan Light Rapid Transit (LRT).
“Nantinya akan kita bangun kereta di atas tanah dengan tiang-tiang penyangga, tapi ini bukan monorail karena ada dua jalur rel kereta,” katanya.
Lebih lanjut dia menyebutkan, berdasarkan penelitian Prof Zhang Ding Xian, seorang ahli transportasi massal rail and rapid transit dari Tong Ding Institute China, biaya pembangunan kereta bawah tanah lebih besar 30 kali lipat dibandingkan membuat kereta di atas tanah. Namun, Petrina belum dapat menyebutkan nilai total investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan MRT atau LRT.
Rute yang ditawarkan masih sama dengan rute Subway yakni sepanjang 8 Km dari Cibeureum hingga Cicaheum dengan lima stasiun pemberhentian. Sistem transportasi ini akan terdiri dari 6-8 gerbong yang masing-masing gerbongnya sanggup menampung 40.000 penumpang. Jarak 8 Km tersebut diprediksi dapat ditempuh dalam waktu satu jam.
(TB Ardi Januar)