BANTUL - Yayasan Hondodento bekerja sama dengan lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM) Kampungku Dusun Krebet, Desa Sedangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul kembali menggelar upacara tradisi labuhan di Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (2/12/2009).
Ritual yang digelar setahun sekali tiap tanggal 15 Suro dan diikuti seluruh keluarga besar Hondodento yang tersebar di tanah air itu, masih mendapat perhatian masyarakat. Terbukti ribuan wisatawan dari DIY maupun luar kota sejak pagi telah memadati sekitar pantai Parangkusumo untuk mengikuti ritual tersebut.
Ritual sendiri dipimpin langsung juru kunci Parangkusumo RP Suraksotarwono. Sedangkan untuk doa keselamatan dipimpin secara bergantian dengan sesepuh Yayasan Hondodento.
"Prosesi labuhan ini sudah kami awali pada hari Jumat mulai pukul 18.00 dengan acara inti memanjatkan doa kesalamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa di Gowongan Kidul, Yogyakarta," ujar Sunarto Ketua Yayasan Hondodento Pusat di sela-sela labuhan.
Sunarto mengatakan, upacara labuhan setiap tanggal 15 Sura tersebut merupakan rangkaian upacara ziarah 1 Sura di petilasan Sang Prabu Sri Adji Djojoboyo di Desa Menang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
"Tahun ini labuhan kita lakukan untuk mempertahankan kekayaan khasanah budaya bangsa sehingga menjadi penggerak nurani dalam rangka menetapkan keistimewaan DIY sebagai jati diri bangsa dan untuk kembali ke Pancasila dan UUD 1945," tuturnya.
Selain itu, juga dikarenakan bangsa Indonesia masih diwarnai permasalahan dan krisis yang cenderung membuat rakyat menjadi menderita. Menurut dia, sampai saat ini rakyat sepenuhnya belum bisa memperoleh kemerdekaan secara penuh karena banyak rakyat miskin menderita. Sebagai salah satu cara mengatasi masalah itu, makhluk seperti manusia harus bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan selama ini.
Sedangkan untuk prosesi labuhannya sendiri dimulai pukul 08.30 WIB yang diawali dengan iring-iringan bergodo yang membawa songsong dan ampilan labuhan. Dari Pendopo Pantai Parangtritis menyusuri pantai dan di Pantai Parangkusumo.
Peserta labuhan seluruhnya mengenakan pakaian tradisional Jawa. Untuk pria mengenakan kain, surjan, dan blangkon. Sedangkan untuk wanita mengenakan kain dan kebaya lengkap dengan konde, dan satu lagi pakaian yang mereka kenakan tersebut bukan berwarna hijau.
Sebelum acara puncak dimulai, mereka duduk bersila di atas pasir menghadap pantai. Pelaksanaan prosesi sendiri dimulai pukul 09.30 WIB, satu jam kemudian atau tepatnya pukul 10.30 WIB dilanjutkan upacara caos rerakiting (melabuh).
Namun sebelumnya, Ketua Pusat Hondodento selaku penyelenggara Sunarto, menyerahkan uba rampe kepada juru kunci Pantai Parangkusumo RP Suraksotarwono.
Setelah itu rombongan wanita menyebar bunga di pantai sebagai wujud menghilangkan sangkal atau wujud tolak balak. Selanjutnya uba rampe dan sesaji yang diarak dari pendapa pantai Parangtritis diakhiri dengan melabuh uba rampe ke pantai Parangkusumo.
Angin dan deburan ombak besar tak menyurutkan pengunjung untuk menyaksikan jalannya upacara, serta berebut sesaji yang akan dilabuh. Ketika juru kunci Parangkusumo menyerahkan uba rampe dan sesaji kepada Tim SAR pantai Parangtritis untuk melabuh ke tengah lautan.
"Sesaji yang kita labuh ini sebagai wujud syukur kita kepada Tuhan agar diberi keselamatan dan kesejahteraan hidup sehingga terhindar dari mara bahaya," ucap RP. Suraksotarwono
Pengunjung yang telah menanti sesaji dan uba rampe dilabuh segera mengikuti Tim SAR untuk berebut atau merayah. Sampai saat ini, sesaji dan uba rampe dari labuhan masih dipercara sebagai perantara untuk keselamatan maupun memohon hajat tertentu. Sehingga orang rela berebut untuk mendapatkan uba rampe labuhan.
Sementara itu, Jumat malam , Sanggar Supra Naturak Songgo Buwono menggelar ritual labuhan di Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta yang dipimpin langsung oleh pimpinan Sanggar Supra Natural Songgo Buwono Lya Hermin Putri Setyowati juga menggelar labuhan dalam rangka tolak bala.
Berbagai uba rampe berupa tumpeng, ingkung, jajan pasar, kembang setaman, tujuh angsa, bebek, ayam putih, dan sesaji saat tiba Cempuri atau lokasi yang dipercaya pertemuan antara Ratu Laut Selatan dengan Penembahan Senopati didoakan terlebih dahulu oleh pimpinan Sanggar Supra Natural Songgo Buwono Lya Hermin Putri Setyowati.
Usai di doakan oleh pimpinan Sanggar Supra Natural Songgo Buwono, sekira pukul 24.00 WIB "uba rampe" selanjutkan diarak menuju Pantai Parangkusumo untuk dilabuh.
Uba rampe yang dilarung pun menjadi rebutan bagi warga yang mengikuti ritual labuhan yang digelar oleh Sanggar Supra Natural Songgo Buwono yang dipercaya akan membawa berkah.
(Hariyanto Kurniawan)